Dari Usaha Rumahan di Blitar, Produksi Tempe Nasruddin Kini Capai 80 Kg Kedelai Sehari
Usaha tempe rumahan milik Nasruddin di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, berkembang dari produksi 5 kilogram menjadi sekitar 80 kilogram kedelai per hari sejak dirintis pada 2023.
Poin Penting
Rumah produksi tempe Nasruddin berada di Desa Kemloko, Blitar.
Usaha produksi tempe dirintis Nasruddin sejak 2023.
Kapasitas produksi meningkat dari sekitar 5 kilogram kedelai per hari menjadi 80 kilogram.
Kabar Blitar – Aktivitas produksi tempe berlangsung sejak pagi di rumah produksi milik Nasruddin di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.
Kedelai yang telah direbus diproses sebelum dibungkus satu per satu untuk kemudian menjalani proses fermentasi.
Usaha rumahan tersebut dirintis Nasruddin sejak 2023 dengan kapasitas produksi yang masih terbatas.
Saat pertama memulai usaha, ia hanya mampu mengolah sekitar lima kilogram kedelai setiap hari dengan peralatan sederhana.
Produksi kemudian terus meningkat seiring bertambahnya pelanggan yang mengenal produknya melalui rekomendasi dari mulut ke mulut.
Kini, rumah produksi tersebut mampu mengolah sekitar 80 kilogram kedelai setiap hari untuk memenuhi permintaan pelanggan di sejumlah wilayah sekitar Blitar.
Nasruddin mengatakan perkembangan usaha tersebut tidak lepas dari upayanya menjaga kualitas tempe, terutama dari sisi bahan baku dan kebersihan selama proses produksi.
Mulai dari pengolahan kedelai, fermentasi hingga pengemasan dilakukan dengan memperhatikan kebersihan agar produk tetap berkualitas dan aman dikonsumsi.
"Padahal, usaha tempe yang dijalankan ini mengalami perkembangan cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir," ujar Nasruddin.
Menurutnya, sejumlah pelanggan kembali membeli karena merasa cocok dengan kualitas sekaligus proses produksi yang dinilai higienis.
Namun, bertambahnya permintaan belum sepenuhnya membuat keuntungan usaha meningkat.
Nasruddin justru menghadapi tantangan dari biaya operasional yang terus berubah, termasuk harga sejumlah bahan penunjang produksi.
Kondisi tersebut membuat margin keuntungan semakin tipis, meskipun kapasitas produksi sudah jauh lebih besar dibandingkan saat pertama memulai usaha.
Nasruddin sebenarnya memiliki pilihan untuk menaikkan harga jual tempe, tetapi hingga kini ia masih mempertahankan harga sekitar Rp4 ribu per bungkus.
"Kalau harga dinaikkan takut pembeli berkurang. Jadi sementara ini kami memilih bertahan meski keuntungan menipis," katanya.
Ia memilih mempertahankan harga agar tempe produksinya tetap dapat dijangkau pelanggan sekaligus menjaga permintaan yang selama ini sudah terbentuk.
Bagi Nasruddin, mempertahankan pelanggan menjadi bagian penting dalam menjalankan usaha yang telah berkembang selama tiga tahun tersebut.
Di tengah kenaikan biaya produksi, ia memilih menjaga kualitas dan harga sambil mempertahankan kepercayaan pelanggan yang menjadi bagian dari perkembangan usahanya.
Dari kapasitas awal lima kilogram kedelai per hari, usaha tempe Nasruddin kini telah berkembang hingga sekitar 80 kilogram per hari dan tetap bertahan dengan mengandalkan kualitas produk serta pelanggan yang sudah terbentuk.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.