Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Feature

Pendapatan Tergerus Mesin, Azis Subasri Tinggalkan Pabrik Kelapa dan Jadi Petani Kemangi di Blitar

Azis Subasri, petani muda yang beralih dari buruh pabrik pengolahan kelapa menjadi petani kemangi setelah pendapatannya tergerus penggunaan mesin.

Petani Kemangi Blitar
Aziz Subasri, Petani Kemangi Blitar.

Kabar Blitar – Panas matahari dan tangan yang penuh tanah kini menjadi bagian dari keseharian Azis Subasri sebagai petani muda.

Ia memilih meninggalkan pekerjaan sebagai buruh pabrik pengolahan kelapa dan beralih menjadi petani kemangi di Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar.

Sebelum bertani, Azis hampir dua tahun bekerja sebagai buruh borongan di pabrik pengolahan kelapa.

Setiap hari, ia mengandalkan tenaga untuk mengupas ratusan hingga ribuan butir kelapa demi mendapatkan penghasilan.

Dalam sehari, Azis pernah mampu mengupas hingga 1.000 butir kelapa.

Namun, kondisi tersebut berubah setelah pabrik mendatangkan mesin pengupas kelapa.

Penggunaan mesin membuat pekerjaan pengupasan secara manual semakin berkurang sehingga pendapatan Azis ikut terdampak.

Ia yang sebelumnya mampu mengupas hingga 1.000 butir kelapa dalam sehari kemudian hanya mendapatkan sekitar 300 hingga 500 butir dengan penghasilan sekitar Rp85 ribu.

“Waktu itu pabrik beli mesin, otomatis pacak manual jadi tersisihkan. Hasil borongan menyusut drastis, sehari paling meleset hanya dapat Rp85.000," ucapnya sambil mengingat masa lalu.

Dirinya menyampaikan bahwa nominal tersebut sebenarnya cukup ketika dirinya masih berstatus lajang dulu.

"Kalau bagi bujang mungkin cukup buat ngopi dan rokok. Tapi saya berpikir ke depan, kalau sudah berumah tangga, punya anak, bayar listrik dan kebutuhan dapur, uang segitu jelas tidak akan bisa mencukupi,” kenang Azis.

Di tengah kondisi tersebut, Azis mendapat tawaran dari orang yang kini menjadi mertuanya untuk mengelola lahan kosong di kawasan Padangan Balong.

Ia diminta mencoba bertani meski sebelumnya sama sekali tidak memiliki pengalaman mengelola lahan.

Tawaran itu sempat membuat Azis ragu karena selama hidupnya ia tidak pernah berkecimpung di dunia pertanian.

“Awalnya saya mikir, ke sawah itu pasti capek, panas, nanti kulit saya hitam. Saya ini modalnya nol putul [tidak berpengalaman], memegang cangkul saja seumur hidup belum pernah,” ujarnya sambil tertawa.

Keraguan tersebut perlahan hilang setelah calon mertuanya melontarkan sebuah pertanyaan yang membuatnya berpikir tentang masa depan.

“Masak kamu mau ikut kerja sama orang terus sampai tua?”

Azis kemudian memberanikan diri mencoba bertani dengan bimbingan calon mertuanya.

Ia belajar mengolah tanah, memasang mulsa plastik, menanam bibit, merawat tanaman hingga memberikan pupuk.

Komoditas pertama yang dipilihnya adalah kemangi.

Tanaman yang selama ini lebih dikenal sebagai pelengkap lalapan tersebut justru menjadi awal Azis membangun penghasilan dari lahan pertanian.

Dari lahan sekitar 40 ru, Azis mampu memperoleh pendapatan hingga Rp2 juta dalam satu minggu ketika memasuki masa panen.

Penghasilan tersebut membuatnya semakin yakin untuk menekuni pertanian sebagai sumber penghidupan.

Kini, Azis tidak lagi mengandalkan pekerjaan borongan di pabrik kelapa.

Ia memilih mengelola lahan sendiri dan terus belajar mengembangkan budidaya kemangi.

Perpindahan pekerjaan itu tidak terjadi karena Azis sejak awal memiliki pengalaman bertani, melainkan karena ia berani mencoba pekerjaan yang sebelumnya sama sekali tidak dikenalnya.

Dari pekerjaan mengupas kelapa yang penghasilannya tergerus setelah penggunaan mesin, Azis menemukan sumber penghasilan baru dari tanaman kemangi yang ia pelajari mulai dari nol.

#Buruh Blitar #Petani Blitar

Komentar 0

Baca Juga