Sejak Muda Mengayuh, Sulin 25 Tahun Bertahan di Perahu Penyeberangan Brantas
Sulin (56) telah 25 tahun mengoperasikan perahu penyeberangan Sungai Brantas yang menghubungkan aktivitas warga Blitar dan Tulungagung. Jasa yang diwariskan keluarganya itu tetap digunakan karena dinilai lebih dekat dan memangkas waktu perjalanan.
Poin Penting
Sulin mengoperasikan penyeberangan tradisional di Sungai Brantas selama 25 tahun.
Penyeberangan masih digunakan warga, pelajar dan pekerja karena bisa memotong jalur.
Kabar Blitar – Selama 25 tahun, Sulin (56) setia mengoperasikan perahu penyeberangan di Sungai Brantas yang menghubungkan aktivitas masyarakat di wilayah Blitar dan Tulungagung.
Setiap hari, ia mengayuh perahu untuk mengantarkan warga dari satu sisi sungai ke sisi lainnya.
Pekerjaan tersebut bukan sekadar mata pencaharian bagi Sulin, tetapi juga bagian dari pekerjaan yang diwariskan keluarganya secara turun-temurun.
Ia mengatakan, jasa penyeberangan tersebut bahkan sudah ada sejak masa kemerdekaan Indonesia dan sebelumnya dijalankan oleh orang tuanya.
“Dari dulu memang sudah ada. Orang tua saya juga melakukan pekerjaan ini, jadi saya melanjutkan,” tuturnya.
Meski kini sudah tersedia jembatan yang menghubungkan wilayah Blitar dan Tulungagung, jasa penyeberangan tradisional tersebut masih digunakan sebagian masyarakat.
Sejumlah pengendara memilih menggunakan perahu karena jalurnya dinilai lebih dekat sehingga dapat memangkas waktu perjalanan dibandingkan harus memutar melewati jembatan.
Kondisi itu membuat Sulin tetap membuka layanan penyeberangan setiap hari.
Penumpangnya beragam, mulai dari warga yang hendak bekerja, pelajar, hingga pengendara sepeda motor yang ingin lebih cepat mencapai tujuan.
Namun, menjalankan perahu di Sungai Brantas bukan tanpa risiko.
Sulin harus memperhatikan perubahan debit air, terutama ketika musim hujan, karena arus sungai dapat menjadi lebih deras.
Material yang terbawa arus seperti kayu dan bambu juga terkadang melintas di jalur penyeberangan sehingga membutuhkan kewaspadaan lebih saat perahu membawa penumpang.
Selama puluhan tahun menjalani pekerjaan tersebut, kondisi sungai menjadi bagian dari keseharian Sulin.
Ia tetap mengutamakan kehati-hatian dan memastikan kondisi penumpang aman sebelum memulai perjalanan.
“Yang penting penumpang selamat sampai tujuan,” ujarnya singkat.
Keberadaan penyeberangan tradisional tersebut menunjukkan bahwa perahu masih menjadi salah satu pilihan mobilitas masyarakat meski infrastruktur jalan dan jembatan terus berkembang.
Bagi masyarakat sekitar, layanan itu tidak hanya membantu memangkas jarak perjalanan, tetapi juga mendukung aktivitas sehari-hari warga di sekitar Sungai Brantas.
Bagi Sulin sendiri, perahu yang setiap hari dikayuhnya menjadi bagian dari kehidupan sekaligus kelanjutan pekerjaan keluarga yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.