Aksi September Hitam, Ruang Publik Blitar Diisi Pasar Gratis hingga Lapak Baca
Aksi September Hitam 2026 bertajuk “Rebut Ruang Publik #2” di Blitar menyoroti ancaman timbulan sampah hingga 250 ton per hari, alih fungsi lahan, pembongkaran perpustakaan sekolah, serta akses ruang publik dan pengetahuan.
Poin Penting
Jaringan Ruang Sipil Blitar bawa isu lingkungan hingga akses pengetahuan.
September Hitam Blitar hadir pasar gratis hingg lapak baca.
Kegiatan melibatkan sejumlah elemen masyarakat sipil hingga organisasi.
Kabar Blitar – Ancaman timbulan sampah hingga 250 ton per hari dan persoalan alih fungsi lahan menjadi sorotan jaringan Ruang Sipil Blitar dalam aksi September Hitam 2026.
Sorotan tersebut disampaikan melalui aksi kultural bertajuk “Rebut Ruang Publik #2” yang mengangkat isu krisis lingkungan sekaligus kondisi ruang sipil di Blitar Raya.
Koordinator acara, Reyda Hafis, mengatakan persoalan lingkungan menjadi salah satu isu yang dibawa karena dinilai berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Menurutnya, persoalan sampah dan alih fungsi lahan perlu mendapat perhatian karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga ruang hidup warga.
Selain isu lingkungan, jaringan Ruang Sipil Blitar menyoroti pembongkaran perpustakaan sekolah yang disebut dilakukan untuk mendukung proyek Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Reyda mengatakan keberadaan perpustakaan berkaitan dengan akses masyarakat terhadap pengetahuan sehingga penghilangan ruang tersebut menjadi bagian dari kritik yang mereka sampaikan.
“Negara sedang merampas hak-hak warganya secara perlahan—mulai dari lingkungan yang dirusak hingga fasilitas baca anak-anak yang diratakan dengan tanah. Hadirnya Lapak Baca di trotoar ini adalah pernyataan sikap kami: penggusuran tidak akan bisa memadamkan daya nalar dan nalar kritis warga,” lanjutnya.

Kritik terhadap kondisi ekonomi masyarakat juga disampaikan melalui konsep Pasar Gratis yang menjadi bagian dari aksi tersebut.
Dalam kegiatan itu, warga saling berbagi kebutuhan seperti beras, sayur, telur, dan pakaian layak pakai tanpa transaksi uang maupun persyaratan administrasi.
Reyda menyebut Pasar Gratis tidak dimaksudkan sekadar sebagai kegiatan berbagi, tetapi sebagai kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai belum menjawab kebutuhan dasar masyarakat.
“Pasar Gratis ini adalah bentuk perlawanan politik dari akar rumput. Saat para pejabat hanya fokus pada proyek fisik dan pembangunan, warga membuktikan mereka bisa saling menjaga perut satu sama lain. Ini tamparan keras terhadap kebijakan yang abai pada kebutuhan nyata rakyat,” tegas Reyda.
Selain Ruang Sipil Blitar, kegiatan tersebut melibatkan sejumlah elemen masyarakat sipil, di antaranya PMII, HMI, GMNI, Komunitas Verde Rose, Lapak Baca Ceria, FORSA, serta Sekolah Filsafat Jalanan Jatim.
Rangkaian kegiatan juga membawa isu kebebasan ruang publik melalui lapak baca, diskusi, mimbar bebas, dan pemutaran film dokumenter.
Bagi jaringan Ruang Sipil Blitar, berbagai kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan kritik mengenai persoalan lingkungan, akses pengetahuan, kondisi ekonomi masyarakat, dan ruang sipil di Blitar Raya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.