Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Opini

Warisan Perlawanan! Reog Bulkiyo Jadi Jejak Pasukan Diponegoro di Blitar

Reog Bulkiyo merupakan kesenian tradisional khas Desa Kemloko, Blitar, yang berakar dari sejarah Perang Diponegoro. Tarian ini mencerminkan akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Cina serta menjadi simbol perjuangan dan identitas pasukan Pangeran Diponegoro.

Warisan Perlawanan! Reog Bulkiyo Jadi Jejak Pasukan Diponegoro di Blitar
Pegiat Budaya, Gerwin Satria Nirbaya

Poin Penting

  • Reog Bulkiyo berasal dari Desa Kemloko, Blitar, dan berkaitan erat dengan sejarah Perang Diponegoro 1825–1830.
  • Kesenian ini merupakan hasil akulturasi budaya Jawa, Arab, dan Cina dalam gerakan, musik, dan atribut.
  • Reog Bulkiyo menjadi simbol perjuangan, identitas prajurit, serta media dakwah dan silaturahmi masyarakat.

Kabar Blitar – Kawasan Blitar bisa jadi lokasi penelusuran jejak sejarah pasukan Pangeran Diponegoro yang menjadi pusat persebaran dakwah dan perlawanan.

Keberadaan Reog Bulkiyo di wilayah Blitar seolah menjadi saksi berupa warisan budaya perihal jejak-jejak pasukan Diponegoro.

Dalam tulisan ini, mari kita bahas lebih lanjut perihal Reog Bulkiyo yang menjadi simbol perlawanan pasukan Diponegoro di Blitar.

Arti Kebudayaan

Kebudayaan merupakan keseluruhan sistem gagasan, perasaan, tindakan, serta hasil karya manusia yang lahir dalam kehidupan bermasyarakat. 

Kebudayaan hadir karena diciptakan oleh manusia, dan sebaliknya tanpa kebudayaan, kehidupan masyarakat tidak akan terbentuk (Fajrie, 2016). 

Nilai-nilai budaya yang dibawa oleh masyarakat tidak terlepas dari unsur pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat, serta berbagai kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh seseorang sebagai bagian dari komunitasnya (Mendri & Prayogi, 2016). 

Dalam konteks ini, kebudayaan selalu memiliki makna dan tujuan dalam setiap bentuknya. Indonesia dikenal memiliki keragaman budaya yang sangat luas, mengingat karakter masyarakatnya yang multikultural. 

Keanekaragaman tersebut menjadi kekayaan sekaligus keunikan yang memiliki nilai luhur (Koentjaraningrat, 1996: 72). 

Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan yang berkembang sesuai dengan kondisi wilayahnya masing-masing.

Sejaah Kelairan Reog Bulkiyo

Salah satu wilayah yang memiliki kekayaan budaya tersebut adalah Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. 

Daerah ini dikenal dengan tradisi multikultural yang tumbuh dan berkembang, salah satunya kesenian Reog Bulkiyo.

Reog Bulkiyo merupakan tarian tradisional yang diciptakan oleh pasukan Pangeran Diponegoro yang melakukan persembunyian di Desa Kemloko, Kabupaten Blitar pada tahun 1825. 

De Javasche Oorlog merupakan peristiwa perang di Pulau Jawa yang berlangsung antara tahun 1825 hingga 1830, yang lebih dikenal sebagai Perang Diponegoro atau Perang Jawa. 

Menurut Ma’arif (2014: 93-94), Perang Jawa adalah konflik antara Pangeran Diponegoro bersama rakyat Jawa melawan Belanda akibat tindakan sewenang-wenang terhadap Kesultanan Yogyakarta. 

Carey (2011: 704) menyebutkan bahwa salah satu penyebab utama perang tersebut adalah keputusan pemerintah kolonial untuk memperbaiki jalan di sekitar Yogyakarta, termasuk yang melewati pagar sebelah timur Tegalrejo. 

Struktur organisasi militer Pangeran Diponegoro berbentuk corps yang meniru sistem militer Kekaisaran Turki Utsmani pada abad ke-16 hingga ke-18. 

Pasukan elit Turki Utsmani terdiri atas tiga divisi, yakni Boluck, Cemaat, dan Segmen. Sementara pasukan infantrinya dikenal dengan sebutan Bashiboluck. Nama-nama tersebut kemudian diadaptasi oleh Pangeran Diponegoro ke dalam pelafalan Jawa.

Boluck kemudian berubah menjadi Bulkiyo, Bashiboluck menjadi Borjomuah, serta Turki menjadi Turkiyo, termasuk penyesuaian pada pangkat komandan dan prajurit. 

Pangkat tertinggi disebut Ali Basah, yang hanya dimiliki oleh beberapa tokoh seperti Ali Basah Sentot Prawiradirja, Ali Basah Kerto Pengalasan, dan Ali Basah Mohamad Ngusman (Leirissa, 2009: 233). 

Pada 25 Maret 1830, Jenderal De Kock secara diam-diam memberikan instruksi untuk menangkap Pangeran Diponegoro apabila perundingan tidak berhasil. Penundaan selama sekitar dua hari pada bulan Ramadan dimanfaatkan Belanda untuk merancang penangkapan tersebut. 

Perundingan pada 28 Maret 1830 berakhir tanpa kesepakatan dan Pangeran Diponegoro akhirnya ditangkap (Leirissa, 1990: 204). 

Penangkapan tersebut menyebabkan perlawanan yang berlangsung sejak 1825 hingga 1830 tidak membuahkan hasil. 

Jalur Pelarian Pasukan Diponegoro

Banyak pengikut Pangeran Diponegoro menyerahkan diri kepada Belanda, sementara sebagian lainnya melarikan diri ke berbagai daerah terpencil untuk menghindari penangkapan, mengingat Belanda terus memburu sisa-sisa pasukan yang berpotensi melakukan perlawanan kembali.

Blitar menjadi salah satu wilayah pelarian para sisa pasukan Pangeran Diponegoro. Secara geografis, Blitar memiliki tanah yang subur karena berada di sekitar Gunung Kelud yang masih aktif. 

Kondisi tersebut memungkinkan para pelarian untuk bertahan hidup dengan membuka lahan pertanian. 

Selain itu, wilayah ini masih dipenuhi hutan dan belum menjadi perhatian utama pemerintah kolonial sebelum terbentuknya Gementese, sehingga relatif aman sebagai tempat persembunyian.

Bentuk Kesenian Reog Bulkiyo

Dari latar belakang inilah kesenian tari Reog Bulkiyo di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar lahir dan terus dilestarikan hingga sekarang. 

Kesenian ini diciptakan oleh Kasan Muhtar, seorang prajurit Pangeran Diponegoro yang berasal dari Bagelan, Jawa Tengah, yang melarikan diri ke wilayah pedalaman Blitar. 

Nama Reog Bulkiyo diduga diambil dari salah satu corps pasukan Diponegoro, yaitu corps Bulkiyo, mengingat penciptanya merupakan bagian dari pasukan tersebut dan gerak tariannya menyerupai latihan kanuragan prajurit yang bertempur menggunakan senjata tajam.

Gerakan dalam Reog Bulkiyo menggambarkan tarian prajurit yang sedang berperang melawan penjajah, sehingga unsur keterampilan tempur terlihat melalui penggunaan senjata dalam setiap gerakannya. 

Pada awalnya, tarian ini merupakan bentuk latihan perang (sabung), sarana dakwah, sekaligus media silaturahmi masyarakat Islam yang dilakukan oleh pasukan Bulkiyo yang dikenal sebagai pemanah Pangeran Diponegoro. 

Musik pengiringnya mencerminkan perpaduan tiga unsur budaya, yaitu Jawa, Arab, dan Cina. Hal ini wajar mengingat Reog Bulkiyo merupakan representasi dari peristiwa Perang Jawa. 

Unsur budaya Jawa hadir karena konflik terjadi di wilayah Jawa, sementara pengaruh Islam Arab muncul karena Pangeran Diponegoro merupakan penganut Sufisme dan memiliki tujuan mendirikan negara Islam. 

Sementara itu, unsur budaya Cina menunjukkan adanya akulturasi, mengingat pada masa Perang Jawa komunitas Tionghoa juga terlibat, bahkan menurut Djamhari (2014: 105), pasukan Diponegoro juga memperoleh senjata dari orang Cina.

Dari segi perlengkapan dan atribut, terlihat jelas adanya perpaduan tiga budaya tersebut. Unsur budaya Jawa tampak pada penggunaan blangkon gaya Yogyakarta, kain batik bermotif parang rusak, serta busana beskap dan atela. 

Blangkon yang dikenakan penari terdiri dari dua jenis, yaitu blangkon mondholan dan blangkon gaya sintingan, yang keduanya merupakan ciri khas Yogyakarta. 

Penari yang membawa alat musik terbang mengenakan perpaduan blangkon dengan lilitan kain merah putih yang disebut udeng gilik bawang sebungkul. 

Atribut ini memiliki kemiripan dengan pakaian perang pasukan Janissary Turki Utsmani abad ke-16. Selain itu, setiap penari juga mengenakan keris bergaya Yogyakarta dengan warangka branggah, yang dipakai dengan cara mogleng khas Yogyakarta. 

Jika ditarik benang merah dari sejarah, ciri khas, serta motif busana Reog Bulkiyo, maka kesenian ini merupakan representasi identitas para pelaku seni yang juga mencerminkan identitas para pejuang dalam Perang Jawa. 

Di sisi lain, kesenian ini juga dimungkinkan menjadi simbol komunikasi bagi para pelarian perang untuk saling mengenali satu sama lain setelah berakhirnya Perang Jawa pada tahun 1830.

#Reog Bulkiyo #Sejarah Reog Bulkiyo Blitar

Komentar 0

Baca Juga