Desa Plumbangan Blitar Jadi Jejak Mpu Gandring dan Awal Berdirinya Kerajaan Singasari
Siapa sangka jika Desa Plumbangan merupakan tempat asal Mpu Gandring yang menjadi asal usul Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari.
Poin Penting
- Desa Plumbangan terletak di pegunungan Blitar tepatnya di Kecamatan Doko.
- Desa di Kabupaten Blitar tersebut diduga menjadi tempat asal Mpu Gandring.
- Desa Plumbangan jadi saksi asal usul Ken Arok mendirikan Kerajaan Singasari.
Kabar Blitar – Plumbangan dikenal sebagai salah satu desa yang menyimpan pesona alam sekaligus jejak sejarah panjang di wilayah barat Kabupaten Blitar.
Terletak di kawasan pegunungan Kecamatan Doko, dekat Wlingi, desa ini dikelilingi hamparan hijau perbukitan serta aliran sungai yang menghadirkan suasana sejuk dan tenang.
Keindahan alam tersebut menjadikan Plumbangan bukan sekadar tempat tinggal masyarakat pedesaan, melainkan ruang alami yang menawarkan ketenangan bagi siapa pun yang berkunjung.
Keasrian Desa Plumbangan masih terjaga dengan baik. Pepohonan rindang, ladang hijau yang membentang, serta udara segar khas pegunungan menciptakan atmosfer yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Lingkungan yang alami ini diperkuat dengan kehidupan masyarakat yang masih memegang erat nilai-nilai tradisi, sehingga desa tersebut tampil sebagai kawasan yang harmonis antara alam dan budaya.
Di balik keindahan alamnya, Desa Plumbangan juga menyimpan kisah sejarah besar yang berkaitan dengan perjalanan awal Kerajaan Singasari.
Wilayah ini diyakini sebagai tempat asal Mpu Gandring, empu legendaris yang namanya lekat dengan kisah kelam perebutan kekuasaan Ken Arok.
Cerita tersebut menjadi bagian penting dari narasi sejarah Jawa yang tercatat dalam Kitab Pararaton.
Kerajaan Singasari, yang juga dikenal dengan nama Tumapel, merupakan kerajaan Hindu-Buddha yang berkembang di Jawa Timur pada abad ke-13, tepatnya antara tahun 1222 hingga 1292 Masehi.
Kerajaan ini didirikan oleh Ken Arok, tokoh yang kemudian bergelar Sri Ranggah Rajasa. Sejarah Singasari tidak hanya menggambarkan kejayaan politik dan budaya, tetapi juga dipenuhi intrik, pengkhianatan, serta konflik berdarah di antara para tokohnya.
Menurut Pararaton, Tumapel awalnya merupakan daerah bawahan Kerajaan Kadiri. Wilayah ini dipimpin oleh seorang akuwu bernama Tunggul Ametung.
Kekuasaan Tunggul Ametung berakhir setelah ia dibunuh oleh pengawalnya sendiri, Ken Arok, melalui tipu daya yang melibatkan sebilah keris pusaka.
Setelah peristiwa tersebut, Ken Arok mengangkat dirinya sebagai penguasa Tumapel dan kelak dinobatkan sebagai raja pertama.
Kisah Mpu Gandring menjadi bagian penting dari rangkaian peristiwa tersebut. Ia dikenal sebagai empu pembuat senjata yang memiliki kemampuan luar biasa.
Dalam Pararaton diceritakan bahwa Mpu Gandring diminta Ken Arok untuk membuatkan keris sakti. Namun, karena permintaan yang tergesa-gesa, keris tersebut belum selesai sepenuhnya saat diminta kembali.
Mpu Gandring berasal dari Desa Lulumbang atau Palumbangan, yang kini dikenal sebagai Desa Plumbangan di Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar.
Ia disebut sebagai sahabat Bango Samparan, ayah angkat Ken Arok. Ketika Mpu Gandring menolak menyerahkan keris yang belum sempurna, Ken Arok justru merampasnya dan membunuh sang empu.
Di saat ajalnya, Mpu Gandring mengucapkan kutukan bahwa keris tersebut akan menewaskan tujuh orang penguasa, termasuk Ken Arok dan keturunannya.
Sebelum mencapai puncak kekuasaan, perjalanan hidup Ken Arok dipenuhi kisah kelam. Ia lahir pada 1182 dari pasangan Gajah Para, seorang pejabat pada masa Kediri, dan Ken Ndok.
Ayahnya wafat sebelum ia lahir, sementara ibunya membawa Ken Arok ke Kediri. Bayi tersebut kemudian dibuang dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembong.
Kehidupan keras membuat Ken Arok tumbuh sebagai penjudi dan perampok, sebelum akhirnya diasuh oleh Bango Samparan.
Perjumpaan Ken Arok dengan seorang brahmana India bernama Lohgawe menjadi titik balik hidupnya. Lohgawe meyakini Ken Arok sebagai titisan Wisnu dan membawanya ke Tumapel.
Dengan bantuan Lohgawe, Ken Arok diterima sebagai pengawal Tunggul Ametung. Ketertarikannya pada Ken Dedes, istri Tunggul Ametung, semakin memperkuat ambisinya untuk merebut kekuasaan.
Setelah membunuh Tunggul Ametung dengan siasat yang melibatkan Kebo Hijo, Ken Arok naik sebagai penguasa Tumapel dan menikahi Ken Dedes.
Dari pernikahan tersebut, serta pernikahannya dengan Ken Umang, lahirlah keturunan-keturunan yang kemudian terlibat dalam lingkaran kutukan keris Mpu Gandring.
Kutukan itu akhirnya terbukti ketika Ken Arok tewas di tangan Anusapati, putra Ken Dedes dari pernikahan sebelumnya.
Selain dikenal sebagai pembuat keris, gelar mpu atau empu pada masa itu juga memiliki makna lebih luas, yakni sebagai sosok ahli dan pemilik pengetahuan tinggi. Seiring waktu, makna tersebut bergeser dan lebih identik dengan profesi pembuat senjata pusaka.
Kisah Mpu Gandring dan Ken Arok tidak hanya menjadi catatan sejarah Kerajaan Singasari, tetapi juga meninggalkan warisan budaya dan mistis yang masih hidup dalam ingatan masyarakat.
Desa Plumbangan hingga kini dipandang sebagai saksi bisu dari peristiwa-peristiwa besar yang membentuk sejarah Jawa Timur, khususnya wilayah Blitar barat, sekaligus menyimpan inspirasi bagi generasi selanjutnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.