Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Feature

Enting-Enting Blitar Tetap Eksis, Campuran Wijen Jadi Terobosan Saat Harga Kacang Meroket

Perajin enting-enting di Karangsari, Kota Blitar, berinovasi campur kacang dengan wijen untuk bertahan saat harga kacang tanah naik hampir 50 persen.

Enting-Enting Blitar Tetap Eksis, Campuran Wijen Jadi Terobosan Saat Harga Kacang Meroket
Produsen Enting-Enting. (Ist)

Poin Penting

  • Harga kacang tanah naik dari Rp25 ribu jadi Rp40 ribu per kilogram, hampir 50 persen.
  • Asna Rosida naikkan harga jual hanya 30 persen dan mencampur kacang dengan wijen agar biaya tetap terkendali.
  • Produksi tetap stabil sekitar satu kuintal per hari, dipasarkan hingga Balikpapan, Bima, dan Bali.

Kabar Blitar – Aroma gula yang mulai mengaramel memenuhi dapur produksi sederhana di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.

Di atas tungku, adonan terus diaduk perlahan sebelum dicampur dengan kacang tanah dan wijen.

Di sudut ruangan lain, para pekerja sibuk memotong enting-enting dan geti yang baru selesai dicetak, lalu mengemasnya satu per satu.

Rutinitas itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari di rumah produksi milik Asna Rosida (52).

Selama lebih dari satu dekade, perempuan tersebut menggantungkan hidup dari jajanan tradisional khas Blitar yang telah dipasarkan hingga berbagai daerah di Indonesia.

Namun, tahun ini menjadi salah satu masa paling menantang bagi usahanya — bukan karena pesanan menurun, melainkan akibat harga kacang tanah yang melonjak tajam.

Jika sebelumnya bahan baku utama itu dapat dibeli sekitar Rp25 ribu per kilogram, kini harganya menembus Rp40 ribu per kilogram.

Kenaikan hampir 50 persen itu membuat biaya produksi meningkat drastis.

Bagi pelaku usaha yang setiap hari membutuhkan puluhan kilogram kacang tanah, perubahan harga tersebut bukan persoalan kecil.

"Tantangan terbesar sekarang memang harga kacang tanah. Kenaikannya luar biasa, hampir 50 persen dibanding sebelumnya," ujar Asna.

Situasi itu memaksanya berpikir keras agar usaha tetap berjalan tanpa kehilangan pelanggan yang telah lama mempercayai produknya.

Alih-alih menaikkan harga secara penuh mengikuti lonjakan biaya produksi, Asna memilih jalan tengah.

Harga jual enting-enting dan geti yang sebelumnya Rp50 ribu per kilogram kini disesuaikan menjadi Rp60 ribu per kilogram, atau naik sekitar 30 persen — lebih rendah dibanding kenaikan harga bahan baku.

"Harga kacang naik hampir 50 persen, tapi harga jual saya naikkan sekitar 30 persen saja. Saya ambil jalan tengah supaya reseller tetap mudah menjual ke konsumen," katanya.

Tak berhenti di situ, Asna juga melakukan inovasi pada resep yang selama ini dipertahankannya.

Jika dahulu produknya hanya mengandalkan kacang tanah sebagai bahan utama, kini ia mulai memadukannya dengan wijen.

Keputusan itu awalnya dilakukan untuk mengurangi beban biaya produksi.

Namun di luar dugaan, perpaduan kedua bahan tersebut justru menghasilkan cita rasa yang lebih gurih dan disukai pelanggan.

"Sekarang saya campur kacang dengan wijen. Rasanya justru lebih gurih dan harga jualnya juga bisa menyesuaikan. Selama lebih dari 10 tahun usaha, baru kali ini saya mengalami harga kacang lebih mahal daripada wijen," ungkapnya.

Meski menghadapi tekanan biaya, semangat Asna tidak ikut surut.

Aktivitas produksi masih berjalan normal dengan kapasitas sekitar satu kuintal enting-enting dan geti setiap hari.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, ia menghabiskan sekitar 75 kilogram kacang tanah per hari.

Produk buatannya juga masih rutin dikirim ke berbagai pusat oleh-oleh di Blitar.

Bahkan, permintaan datang dari luar Pulau Jawa, seperti Balikpapan, Bima, hingga Bali.

Baginya, menjaga kepercayaan pelanggan jauh lebih penting daripada mengambil keuntungan besar dalam waktu singkat.

Sebab, usaha yang dibangunnya bukan hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga menghidupi para pekerja yang setiap hari membantu proses produksi.

"Alhamdulillah produksinya masih stabil. Pesanan tetap ada, sehingga saya juga masih bisa mempertahankan karyawan," pungkasnya.

Di tengah gejolak harga bahan baku yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dapur kecil di Karangsari itu tetap berproduksi setiap hari.

Melalui ketekunan dan keberanian berinovasi, Asna membuktikan bahwa usaha tradisional bisa tetap bertahan di tengah tantangan kenaikan harga bahan baku.

#Enting-Enting Blitar #Kuliner Khas Blitar #Wisata Kuliner Blitar

Komentar 0

Baca Juga