Tak Kuat Beradaptasi dengan Asrama, Sejumlah Siswa Sekolah Rakyat Blitar Memilih Mundur
Sejumlah siswa Sekolah Rakyat Kota Blitar mengundurkan diri sejak sekolah berasrama tersebut beroperasi, dengan mayoritas berasal dari jenjang SD karena kesulitan beradaptasi.
Poin Penting
Sekolah Rakyat mencatat kurang dari 10 siswa mengundurkan diri.
Jumlah siswa Sekolah Rakyat Blitar sempat turun dari 205 jadi 190 anak.
Angka meningkat jadi 216 anak setelah menerima 27 siswa baru.
Kabar Blitar – Sejumlah siswa Sekolah Rakyat Kota Blitar mengundurkan diri sejak sekolah berbasis asrama tersebut mulai beroperasi.
Adapun mayoritas siswa yang mengundurkan diri berasal dari jenjang sekolah dasar (SD) karena kesulitan beradaptasi dengan lingkungan asrama.
Kepala Sekolah Rakyat Kota Blitar, Johan Argono, membenarkan adanya siswa yang memilih berhenti mengikuti pendidikan di sekolah tersebut.
Menurutnya, pihak sekolah tidak memaksakan anak untuk tetap tinggal di asrama apabila belum siap mengikuti pola pendidikan dan pengasuhan yang diterapkan.
“Ada beberapa yang sudah mengundurkan diri, mayoritas siswa jenjang SD. Karena masih kecil, kami juga tidak memaksa,” kata Johan saat ditemui di kompleks Sekolah Rakyat.
Johan menjelaskan, sekolah melakukan pendampingan terhadap siswa yang mengalami kesulitan beradaptasi sesuai arahan Kementerian Sosial (Kemensos).
Pendampingan dilakukan melalui pengawasan wali asrama dan wali asuh, konseling bagi siswa dan orang tua, hingga pemberian izin pulang sementara sebelum anak siap kembali ke asrama.
“Kalau dari kementerian memang tidak boleh dipaksa. Anak di sini ada perlakuan (treatment)-nya. Kalau tidak kerasan, jangan dipaksa,” tutur Johan.
Secara akumulatif, jumlah siswa yang mengundurkan diri tercatat kurang dari 10 anak.
Namun, jumlah peserta didik mengalami perubahan seiring adanya siswa baru yang masuk.
Pada Agustus lalu, jumlah siswa Sekolah Rakyat Kota Blitar tercatat 205 anak, kemudian turun menjadi 190 anak. Jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 216 anak setelah menerima 27 siswa baru pada akhir September.
Dinamika serupa juga terjadi di jenjang sekolah menengah atas (SMA), terutama ketika terdapat perbedaan keinginan antara anak dan orang tua terkait keberlanjutan pendidikan di sekolah berasrama tersebut.
“Untuk yang SMA misalnya, ada orang tuanya yang ingin memundurkan tetapi anaknya tidak mau. Sebaliknya, ada anaknya yang ingin mundur, tetapi orang tuanya tidak mengizinkan,” ujar Johan.
Pihak sekolah terus mengevaluasi pendampingan dan pemenuhan kebutuhan dasar siswa untuk mendukung proses adaptasi selama tinggal di asrama.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.