Ramadan Jadi Waktu Detoks Tubuh, Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar Larang Kebiasaan Begadang
Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar menyebut puasa dapat membantu proses detoksifikasi alami tubuh karena organ pencernaan mendapat waktu istirahat. Namun masyarakat diingatkan tetap menjaga pola tidur cukup, terutama pada malam hari, agar proses pembuangan racun berlangsung optimal selama Ramadan.
Poin Penting
- Dinkes Kabupaten Blitar menyebut puasa membantu proses detoksifikasi alami tubuh.
- Proses pembersihan racun dalam tubuh berlangsung optimal saat tidur malam tercukupi.
- Masyarakat diimbau tak begadang agar metabolisme dan kebugaran tubuh tetap terjaga.
Kabar Blitar – Ibadah puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momentum bagi tubuh untuk melakukan proses pembersihan racun secara alami atau detoksifikasi.
Namun, proses tersebut dinilai sangat bergantung pada pola istirahat dan aktivitas yang dijalani selama bulan Ramadan.
Nutrisionis Pelaksana Lanjutan di Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Erma Trifalufi, menjelaskan bahwa tubuh sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk membuang zat sisa metabolisme yang tidak lagi dibutuhkan.
Menurutnya, proses tersebut dapat berlangsung lebih optimal ketika sistem pencernaan mendapat waktu istirahat yang cukup lama, seperti saat seseorang menjalankan ibadah puasa.
“Puasa adalah waktu di mana organ-organ tubuh kita, terutama hati dan ginjal, bekerja lebih fokus untuk menetralisir racun karena beban pencernaan berkurang secara signifikan,” ujar Erma.
Meski demikian, ia menekankan bahwa proses detoksifikasi alami tubuh dapat terganggu jika pola istirahat tidak terjaga dengan baik. Salah satu faktor penting yang harus diperhatikan adalah kualitas tidur pada malam hari.
Erma menjelaskan bahwa proses regenerasi sel dan pembuangan racun dalam tubuh mencapai puncaknya pada waktu tertentu ketika seseorang berada dalam kondisi tidur yang lelap.
“Proses detoksifikasi alami tubuh itu terjadi secara maksimal mulai pukul 22.00 hingga menjelang subuh. Inilah mengapa kami sangat menyarankan masyarakat untuk tidak begadang selama Ramadan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sebagian orang masih memiliki anggapan keliru dengan mengganti waktu tidur malam yang hilang dengan tidur di siang hari.
Menurutnya, tidur siang tidak dapat sepenuhnya menggantikan fungsi biologis tidur malam dalam mendukung metabolisme dan proses detoksifikasi tubuh.
“Jika pola tidur berantakan karena begadang, tubuh justru akan merasa lebih lemas saat bangun sahur. Akibatnya proses pembersihan racun tidak berjalan sempurna dan kebugaran tubuh saat beraktivitas di siang hari akan menurun,” pungkasnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.