Bukan Pemuda Minim Literasi, Tapi Koleksi Buku Tak Menarik Lagi
Minat baca pemuda dinilai tidak menurun. Persoalan utama justru terletak pada koleksi perpustakaan yang dianggap kurang relevan dengan kebutuhan generasi muda.
Poin Penting
- Pemuda dinilai tetap aktif membaca melalui media sosial, thread panjang, hingga buku pengetahuan alternatif di luar kebutuhan akademik.
- Koleksi perpustakaan konvensional dianggap kurang relevan karena didominasi buku lama dan tidak mengikuti tren pembaca muda.
- Pembaruan kurasi buku dan penyediaan bacaan yang lebih kontekstual dinilai penting untuk meningkatkan minat literasi generasi muda.
Generasi muda kembali menjadi sasaran empuk kritik publik. Mereka dicap sebagai generasi instan yang mengalami kemunduran minat baca dan lebih memilih konten hiburan berdurasi singkat.
Namun, tuduhan bahwa pemuda hari ini minim literasi adalah sebuah salah kaprah (miskonsepsi) yang dangkal.
Realitas di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya, pemuda tidak berhenti membaca, mereka hanya berhenti membaca apa yang disediakan oleh perpustakaan konvensional karena koleksinya tidak lagi menarik dan relevan.
Gagasan bahwa pemuda anti-baca langsung runtuh jika kita mengamati perilaku mereka di media sosial.
Di platform seperti X (Twitter) atau Instagram, anak muda secara sukarela melahap utasan (threads) panjang yang berisi ribuan kata.
Mereka membaca analisis kasus kriminal, bedah geopolitik internasional, hingga rujukan sejarah pop.
Fenomena ini membuktikan bahwa daya tahan membaca (reading stamina) mereka tidak hilang. Mereka bahkan aktif memvalidasi informasi tersebut melalui kolom diskusi.
Pemuda hari ini adalah konsumen teks yang sangat aktif, namun mereka membutuhkan informasi yang dikemas secara dinamis, mengalir, dan memiliki keterikatan langsung dengan realitas sosial yang mereka hadapi.
Indikator lain yang mematahkan mitos "pemuda malas baca" dapat dilihat di kalangan mahasiswa. Di luar kewajiban akademis, tidak sedikit mahasiswa yang rela menyisihkan uang saku demi membeli buku pengetahuan alternatif.
Mereka berburu buku tentang kesehatan mental, filsafat terapan, pengembangan diri (self-improvement), hingga isu ekonomi digital di toko buku independen atau pameran literasi.
Buku-buku ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mata kuliah atau syarat kelulusan mereka.
Mereka membelinya murni karena didorong oleh rasa ingin tahu dan kebutuhan untuk menjawab kecemasan personal di era modern.
Aktivitas ini menegaskan bahwa hasrat membaca itu tetap menyala di hulu, namun tersumbat di hilir ekosistem literasi publik.
Masalah utamanya ada pada jarak generasi (generation gap) yang lebar antara penyedia layanan literasi dan pembaca muda.
Jika kita melangkah ke perpustakaan daerah saat ini, pemandangan yang mendominasi adalah deretan rak berisi buku teks kurikulum lama, panduan teknis yang usang, atau biografi kaku bermutu kertas kusam.
Ada pemaksaan selera dari generasi tua kepada pemuda tentang "buku apa yang wajib dibaca". Ketika perpustakaan gagal menyediakan buku-buku kontemporer yang berbicara dengan bahasa mereka, pemuda secara otomatis akan mencari asupan literasi di tempat lain.
Ironisnya, alokasi anggaran literasi sering kali habis untuk membangun fisik gedung perpustakaan yang megah, namun melupakan kurasi isinya.
Membeli buku tanpa riset pasar dan pemetaan tren pembaca muda adalah investasi yang sia-sia. Ruang baca publik harus mulai mengadopsi cara kerja toko buku modern atau platform digital yang adaptif.
Kurasi koleksi harus diperbarui secara berkala mengikuti isu yang sedang hangat diperbincangkan oleh generasi muda.
Sudah saatnya kita mengubah sudut pandang. Berhentilah menghakimi pemuda sebagai generasi yang defisit literasi.
Fokus utama harus dialihkan untuk membenahi hulu dari ekosistem ini, yaitu pembaruan dan penyegaran koleksi bahan bacaan.
Ketika instansi publik mampu menyediakan buku dan teks yang relevan, segar, dan mudah diakses, niscaya ruang-ruang baca akan kembali dipadati oleh generasi muda tanpa perlu dipaksa.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.