Berdiri Sejak Era Kolonial Belanda, Es Drop Legendaris Blitar Masih Berdiri Tegak
Popularitas dan kelezatan Es Drop Blitar sebagai kuliner khas Kota Patria masih melekat diingatan masyarakat sebagai jajanan legendaris.
Poin Penting
- Es Drop Blitar masih jadi jajanan legendaris yang gugah selera.
- Berdiri sejak 1900an membuat Es Drop Blitar punya sejarah panjang era kolonial Belanda.
- Inovasi varian rasa membuat Es Drop Blitar tetap diminati hingga masa kini.
Kabar Blitar – Di tengah menjamurnya minuman modern seperti boba, kopi susu, hingga berbagai es kekinian, Es Drop Blitar menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu kuliner legendaris khas Kota Blitar.
Jajanan tradisional ini masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, baik bagi generasi lama yang bernostalgia maupun generasi muda yang penasaran dengan cita rasa klasik.
Keberadaan Es Drop Blitar ini menjadi bukti bahwa minuman tradisional tak selalu tergeser oleh tren zaman.
Kuliner Es Drop Blitar memiliki sejarah panjang dalam perjalannya yang bermula sejak era kolonial Belanda.
Salah satu pabrik Es Drop Blitar diketahui pertama kali berdiri pada tahun 1937 dan berlokasi di Kota Blitar.
Hingga kini, pabrik tersebut masih beroperasi dan dikelola oleh generasi ketiga dengan tetap mempertahankan resep asli.
Konsistensi dalam menjaga cita rasa autentik inilah yang membuat Es Drop Blitar mampu bertahan hampir satu abad.
Secara tampilan, es drop ini sekilas menyerupai es lilin. Namun, keunikan Es Drop Blitar terletak pada bahan dan cara penyajiannya.
Es ini dibuat dari campuran gula merah dan santan, sehingga menghasilkan rasa manis alami dengan tekstur lembut.
Kemasan selongsong kertas yang digunakan memberikan kesan klasik dan membangkitkan nostalgia.
Selain itu, stik es yang digunakan menyerupai tusuk sate, berbeda dari es lilin pada umumnya. Cara menikmatinya pun praktis, cukup menarik bungkus ke bawah tanpa perlu dikupas atau dipotong.
Seiring waktu, Es Drop Blitar juga mengalami inovasi rasa. Jika awalnya hanya tersedia rasa original berbahan santan dan gula merah, kini hadir berbagai varian seperti kacang hijau, stroberi, durian, dan cokelat.
Inovasi ini membuat es drop semakin diminati oleh berbagai kalangan, tanpa meninggalkan identitas tradisionalnya.
Daya tarik lainnya terletak pada cara penjualan yang masih mempertahankan nuansa lama. Di Kota Blitar, pedagang es drop kerap berkeliling kampung menggunakan sepeda ontel atau berjalan kaki.
Mereka juga biasa mangkal di titik keramaian seperti Alun-alun Kota Blitar, Kebon Rojo, dan pusat aktivitas warga lainnya, terutama pada siang hingga sore hari.
Dengan harga terjangkau sekitar Rp5.000 per buah, rasa yang konsisten sejak dulu, bahan alami tanpa pengawet, serta nilai nostalgia yang kuat, Es Drop Blitar tetap menjadi favorit.
Di tengah arus modernisasi, es drop ini menjadi simbol bahwa kuliner tradisional masih mampu bertahan dan dicintai lintas generasi.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.