Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Peristiwa

Satu SPPG di Kota Blitar Ditutup 20 Hari, Ada Indikasi Terpapar Arsenik

BGN menghentikan sementara operasional SPPG Cik Ditiro Kota Blitar selama 20 hari setelah 22 siswa dari SLB Negeri 1 Kota Blitar dan SMP Al Muhafidzoh mengalami gangguan pencernaan usai mengonsumsi MBG.

Keracunan MBG di Kota Blitar
Ilustrasi Operasional SPPG Kota Blitar.

Poin Penting

  • SPPG Cik Ditiro Kota Blitar dihentikan selama 20 hari mulai Kamis (17/9/2026)

  • Keputusan diambil setelah 22 siswa mengalami gangguan pencernaan.

  • Pengujian awal di SPPG menunjukkan indikasi zat arsenik pada rolade telur.

Kabar Blitar – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cik Ditiro Kota Blitar selama 20 hari.

Keputusan tersebut diambil menyusul 22 siswa dari dua sekolah mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi paket Makan Bergizi Gratis (MBG).

Koordinator Wilayah BGN Kota Blitar, Titik Nur Azizah mengatakan bahwa penghentian sementara operasional SPPG Cik Ditiro berlaku mulai Kamis (17/9/2026).

“Untuk dibukanya lagi, nanti kami akan tunggu surat rekomendasi dari dinas kesehatan, dilengkapi dengan hasil uji lab dari sampel makanan yang saat ini masih diuji laboratorium,” ujar Titik, Jumat (18/9/2026).

Titik menjelaskan, 22 siswa yang mengalami keluhan tersebut berasal dari SLB Negeri 1 Kota Blitar dan SMP Al Muhafidzoh.

Seluruh siswa telah mendapatkan perawatan medis di puskesmas maupun rumah sakit dan diperbolehkan pulang pada hari yang sama tanpa ada yang menjalani rawat inap.

Terkait penyebab munculnya gangguan kesehatan tersebut, Titik menyebut terdapat indikasi awal zat arsenik pada salah satu komponen menu MBG, yakni rolade telur.

Temuan tersebut diperoleh dari pengujian awal terhadap sampel makanan yang dilakukan di SPPG Cik Ditiro, tetapi hasil tersebut masih perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium.

“Ada indikasi adanya zat arsenik yang ada di dalam makanan, kemungkinan itu dari pestisida di bahan baku," ungkapnya.

Meskipun begitu, pihaknya belum bisa memastikan adanya zat tersebut dan memilih menunggu kepastian dari hasil uji laboratorium.

"Tapi kami juga belum bisa memastikan karena menunggu dari hasil lab,” terangnya.

Adapun paket MBG yang dibagikan kepada siswa terdiri dari nasi putih, rolade telur, tumis kacang kapri, tahu kuning, dan buah melon.

Atas kejadian tersebut, BGN melakukan evaluasi dengan memperketat penerapan standard operating procedure (SOP) di SPPG, terutama pada tahapan persiapan dan pencucian bahan baku.

“Kalau memang itu ada di bahan baku karena pestisida, dari SPPG harus lebih memperhatikan SOP untuk persiapan dan pencucian bahan baku,” tandasnya.

#Keracunan MBG #MBG Blitar #SPPG di Blitar

Komentar 0

Baca Juga