Tradisi Pladu Sungai Brantas, Pesta Ikan Mabuk yang Jadi Warisan Warga Blitar
Tradisi pladu di Sungai Brantas menjadi momentum tahunan yang ramai didatangi warga saat flushing Waduk Wlingi dan Lodoyo. Warga berbondong-bondong berburu ikan mabuk yang hanyut terbawa arus sungai.
Poin Penting
- Tradisi pladu di Sungai Brantas menjadi pesta rakyat tahunan saat flushing Bendungan Wlingi dan Lodoyo.
- Ribuan warga dari Malang, Blitar, Tulungagung, hingga Kediri berburu ikan yang mudah ditangkap.
- Meski menjadi bagian budaya lokal, masyarakat diimbau tetap waspada karena arus sungai saat pladu lebih deras dan berbahaya.
Kabar Blitar – Dalam periode tertentu setiap tahun, suasana di sepanjang aliran Sungai Brantas mendadak berubah ramai.
Ribuan warga dari Malang, Blitar, Tulungagung, hingga Kediri turun ke sungai membawa jala, cikrak, hingga keranjang bambu untuk berburu ikan dalam tradisi yang dikenal dengan sebutan pladu.
Pada momen pladu, ikan-ikan di Sungai Brantas terlihat lebih mudah ditangkap. Bahkan, sebagian ikan tampak mengambang di permukaan sehingga bisa diambil menggunakan tangan kosong.
Kondisi ika-ikan yang mabuk saat pladu ini dimanfaatkan warga untuk mendapatkan ikan sebanyak mungkin.
Fenomena itu terjadi saat proses flushing atau pembersihan endapan lumpur di Waduk Wlingi Karangkates dan Lodoyo, Kabupaten Blitar.
Derasnya arus dan perubahan kondisi air membuat ikan mengalami kondisi seperti mabuk sehingga mudah terbawa arus ke hilir.
Tradisi pladu pun berubah menjadi pesta rakyat tahunan. Sejak pagi, warga memadati bantaran sungai untuk mencari titik terbaik menangkap ikan.
Ada masyarakat yang menggunakan jaring besar, serokan, hingga ember untuk menampung hasil tangkapan.
Suasana semakin riuh ketika ikan mulai bermunculan. Warga saling berebut menangkap ikan yang hanyut mengikuti arus sungai.
Tidak sedikit juga warga yang rela turun langsung ke aliran sungai demi mendapatkan hasil lebih banyak.
Bagi sebagian masyarakat, pladu bukan sekadar mencari ikan gratis. Tradisi ini telah berlangsung puluhan tahun dan menjadi bagian dari budaya masyarakat di sekitar Sungai Brantas.
Momentum tersebut juga menjadi ajang berkumpul warga dari berbagai daerah di wilayah Blitar, Tulungagung dan Kediri.
Namun di balik kemeriahannya, tradisi pladu juga menyimpan risiko keselamatan. Arus sungai saat flushing cenderung lebih deras dan tidak stabil.
Kondisi bantaran yang licin membuat warga rawan terpeleset maupun terseret derasnya arus Sungai Brantas.
Meski demikian, banyak warga tetap nekat turun ke sungai karena menganggap pladu sebagai tradisi tahunan yang sayang dilewatkan.
Sejumlah pihak pun mengingatkan pentingnya edukasi keselamatan kepada masyarakat agar tradisi pladu tetap dapat berlangsung tanpa menimbulkan korban.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.