Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Blitar Undercover

Tingkat Gemar Membaca Kota Blitar Masih Rendah, Buku Keok Hadapi Ketenaran Gawai

Tingkat Gemar Membaca (TGM) Kota Blitar pada 2025 tercatat 54,47 persen dan masih masuk kategori rendah. Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Blitar menargetkan TGM menembus 60 persen pada 2026 melalui berbagai program literasi, termasuk kafe literasi dan bazar buku untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Tingkat Gemar Membaca Kota Blitar Masih Rendah, Buku Keok Hadapi Ketenaran Gawai
Budaya literasi di Kota Blitar (dok. Gmaps)

Poin Penting

  • Tingkat Gemar Membaca (TGM) Kota Blitar tahun 2025 mencapai 54,47 persen dan masih berada dalam kategori rendah.
  • Disperpusip Kota Blitar menargetkan TGM meningkat hingga melampaui 60 persen pada akhir 2026.
  • Untuk meningkatkan budaya membaca, Disperpusip menghadirkan kafe literasi, menggelar bazar buku secara berkala, serta mendorong berbagai inovasi literasi.

Kabar Blitar – Deretan sekolah berdiri hampir di setiap sudut Kota Blitar. Perpustakaan daerah terus berbenah. Akses internet semakin mudah dijangkau.

Namun di balik semua itu, tersimpan fakta yang cukup menggelitik. Minat baca masyarakat Kota Blitar ternyata masih tergolong rendah.

Berdasarkan data yang dihimpun dari tim Kabar Blitar, Dinas Perpustakaan dan Arsip (Disperpusip) Kota Blitar menunjukkan Tingkat Gemar Membaca (TGM) pada 2025 berada di angka 54,47 persen. 

Angka ini memang terlihat cukup tinggi jika dibaca sekilas. Tetapi dalam sistem pengukuran terbaru, capaian tersebut masih masuk kategori rendah.

Pertanyaannya, mengapa hal ini bisa terjadi?

Ketika Angka Tak Selalu Bercerita Sederhana

Banyak orang mungkin menganggap kenaikan angka TGM sebagai kabar baik. Apalagi pada 2024, TGM Kota Blitar tercatat sebesar 52,40 persen. Namun ternyata, membandingkan kedua angka tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan.

Sebagai informasi, metode pengukuran yang digunakan mengalami perubahan sehingga data tahun 2024 dan 2025 tidak bisa disejajarkan secara langsung.

Artinya, meski angka TGM meningkat menjadi 54,47 persen, statusnya justru masih berada dalam kategori rendah berdasarkan standar penilaian terbaru.

Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan literasi bukan hanya soal kenaikan angka statistik, melainkan bagaimana kualitas kebiasaan membaca masyarakat benar-benar terbentuk.

Kota Kecil dengan Tantangan Besar

Di atas kertas, Kota Blitar memiliki banyak modal untuk membangun budaya literasi. Wilayahnya tidak terlalu luas sehingga akses terhadap fasilitas pendidikan relatif lebih mudah dibanding daerah lain.

Tingkat pendidikan masyarakat juga terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya.

Hari ini, membaca tidak lagi bersaing dengan televisi atau radio. Buku harus berhadapan dengan media sosial, video pendek, gim daring, hingga berbagai bentuk hiburan digital yang mampu menyita perhatian selama berjam-jam.

Banyak orang membuka layar ponsel setiap hari. Tetapi tidak semuanya membaca. Setidaknya tidak membaca dalam pengertian yang mampu meningkatkan pengetahuan secara mendalam.

Generasi Scroll, Bukan Generasi Baca?

Fenomena yang kini muncul di berbagai daerah juga mulai terlihat di Kota Blitar. Masyarakat semakin akrab dengan informasi instan.

Judul dibaca, caption dilihat, video berdurasi satu menit ditonton. Namun tidak banyak yang meluangkan waktu untuk menyelesaikan satu buku secara utuh.

Kondisi inilah yang menjadi tantangan terbesar dalam membangun budaya membaca. Karena persoalannya bukan lagi sekadar menyediakan buku.

Tetapi bagaimana membuat masyarakat tertarik untuk membuka dan menuntaskan bacaan tersebut?

Kafe Literasi dan Upaya Melawan Arus

Menyadari tantangan tersebut, Disperpusip Kota Blitar mencoba mencari pendekatan yang lebih dekat dengan kebiasaan masyarakat saat ini.

Salah satunya melalui kehadiran kafe literasi yang telah diresmikan Pemerintah Kota Blitar. Konsepnya dibuat berbeda dari perpustakaan konvensional yang identik dengan suasana formal dan sunyi.

Ruang baca dirancang lebih santai agar masyarakat merasa nyaman menghabiskan waktu sambil membaca. Selain itu, berbagai bazar buku juga mulai rutin digelar melalui kerja sama dengan sejumlah pihak.

Tujuannya sederhana, membuat buku lebih dekat dengan masyarakat. Sebab minat baca sulit tumbuh jika bahan bacaan tidak mudah dijangkau.

Mengejar Target 60 Persen

Disperpusip Kota Blitar kini memasang target yang cukup ambisius. Pada akhir 2026, Tingkat Gemar Membaca ditargetkan mampu menembus angka 60 persen.

Angka tersebut bukan sekadar target administratif. Sebab berdasarkan klasifikasi yang digunakan, capaian di atas 60 persen menjadi pintu untuk keluar dari kategori rendah.

Namun perjalanan menuju angka itu tidak akan mudah. Membangun budaya membaca berbeda dengan membangun gedung atau infrastruktur yang hasilnya bisa terlihat dalam hitungan bulan. Literasi adalah kebiasaan dan kebiasaan membutuhkan waktu panjang untuk tumbuh.

Di balik angka 54,47 persen, ada pekerjaan rumah yang lebih besar daripada sekadar meningkatkan statistik tahunan. Bagaimana membuat anak-anak memilih buku di tengah banjir konten digital?

Bagaimana membuat remaja menjadikan membaca sebagai kebutuhan, bukan kewajiban? Bagaimana membuat orang dewasa kembali akrab dengan buku setelah seharian bekerja dan sibuk dengan telepon genggam?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan masa depan literasi Kota Blitar. Sebab pada akhirnya, kota yang maju bukan hanya kota yang memiliki banyak sekolah atau perpustakaan.

Melainkan kota yang warganya memiliki kebiasaan untuk terus belajar. Dan semua itu selalu berawal dari satu hal sederhana: membaca.

#Perpustakaan Blitar #Tingkat Gemar Membaca Blitar

Komentar 0

Baca Juga