Terbanyak di Kecamatan Sukorejo, Skrining TBC Blitar Temukan 19 Kasus Baru
Skrining TBC mobile X-ray di Kota Blitar temukan 19 kasus baru, Kecamatan Sukorejo tertinggi dengan 8 kasus; program berlanjut hingga November 2026.
Poin Penting
- Skrining TBC lewat mobile X-ray di Kota Blitar temukan 19 kasus baru, dengan Kecamatan Sukorejo tertinggi (8 kasus).
- Sasaran skrining mencakup warga bergejala, penderita DM, ODHIV, kontak erat pasien TBC, dan balita gizi kurang.
- Program berlanjut hingga November 2026, menyasar lapas, pondok pesantren, serta kontak erat atau serumah pasien TBC.
KBRB – Skrining tuberkulosis (TBC) menggunakan layanan mobile X-ray di Kota Blitar menemukan 19 kasus baru.
Dari jumlah tersebut, Kecamatan Sukorejo menjadi wilayah dengan temuan kasus terbanyak, yakni delapan kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Blitar, Silvia Dewi Kusumawati, mengatakan temuan tersebut merupakan hasil pemeriksaan yang dilakukan untuk mempercepat deteksi kasus TBC di masyarakat.
"Ditemukan 19 kasus baru TBC. Untuk wilayah yang paling banyak ditemukan, Kecamatan Sukorejo ada delapan kasus TB baru," ujar Silvia.
Sasaran pemeriksaan mobile X-ray, menurut Silvia, tidak hanya warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.
Skrining juga menyasar kelompok masyarakat yang memiliki faktor risiko tertentu.
"Sasarannya yang memiliki kriteria bergejala, kemudian DM, ODHIV, kontak erat, dan balita dengan gizi kurang," jelasnya.
Mobile X-ray, ia menjelaskan, digunakan untuk membantu mendeteksi kemungkinan TBC lewat pemeriksaan rontgen dada.
Penggunaan layanan tersebut juga membuat pemeriksaan dapat dilakukan lebih dekat dengan masyarakat sehingga akses terhadap deteksi penyakit menjadi lebih mudah.
"Manfaatnya bisa mendeteksi dini penyakit TB melalui foto rontgen dada, kemudian membawa layanan kesehatan langsung ke wilayah masyarakat sehingga memudahkan akses pelayanan," katanya.
Warga yang hasil skriningnya menunjukkan dugaan TBC selanjutnya diarahkan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisi tersebut.
Sebagian besar terduga menjalani Tes Cepat Molekuler (TCM) untuk mengetahui ada atau tidaknya bakteri penyebab TBC.
Namun, tidak semua warga yang terindikasi dapat menjalani pemeriksaan TCM — kondisi tersebut antara lain terjadi pada warga yang tidak mengalami gejala atau kesulitan mengeluarkan dahak sebagai sampel pemeriksaan.
"Sebagian besar terduga menjalani pemeriksaan TCM. Tetapi ada yang tidak TCM apabila tidak bergejala atau tidak bisa mengeluarkan dahak," ungkap Silvia.
Program skrining menggunakan mobile X-ray masih akan berlangsung hingga November 2026.
Dinkes Kota Blitar selanjutnya akan menyasar sejumlah kelompok dan lokasi yang dinilai memiliki risiko penularan TBC lebih tinggi.
"Masih ada sampai November 2026 dengan sasaran lapas, pondok pesantren, serta kontak erat atau serumah pasien TB," pungkasnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.