Media Sosial dan Pertemanan Digital
Perkembangan media sosial dinilai bisa menjadi salah satu sarana pembentukan pertemanan digital yang menawarkan keluasan relasi.
Poin Penting
- Pertemanan digital dinilai memiliki peran dominan saat ini.
- Keluasan relasi jadi nilai yang ditawarkan oleh pertemanan digital.
- Pertemanan konvensional masih dianggap lebih kuat dibandingkan digital.
Kabar Blitar – Perkembangan media sosial dan platform digital membawa perubahan signifikan dalam pola pertemanan mahasiswa.
Relasi sosial yang sebelumnya lebih banyak terbentuk melalui interaksi langsung di lingkungan kampus, kini semakin sering bermula dan terpelihara lewat ruang digital.
Kondisi tersebut melahirkan fenomena circle pertemanan digital yang semakin menguat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa masa kini.
Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar, Ahmad Kafiy, menilai media sosial memiliki peran strategis dalam membentuk relasi sosial generasi muda.
Ia menyebut, kehadiran platform digital mempercepat proses saling mengenal sekaligus memperluas jejaring pertemanan tanpa dibatasi ruang dan latar belakang.
“Pertemanan hari ini tidak selalu dimulai dari pertemuan fisik. Banyak yang berawal dari kesamaan minat, isu, atau aktivitas di ruang digital,” ujarnya.
Menurut Kafiy, dari sisi jumlah dan intensitas komunikasi, circle pertemanan digital saat ini memang cenderung lebih dominan dibandingkan pertemanan di dunia nyata.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keduanya tidak berada dalam posisi saling menggantikan. “Pertemanan digital unggul dalam jangkauan dan kecepatan komunikasi, sementara pertemanan langsung tetap lebih kuat dalam kedalaman relasi. Keduanya saling melengkapi,” katanya.
Bagi kalangan mahasiswa, keberadaan circle pertemanan digital dinilai membawa sejumlah manfaat.
Selain mempermudah akses informasi, pertemanan berbasis digital juga membuka peluang kolaborasi lintas kampus hingga lintas daerah.
Ruang diskusi yang terbuka di media sosial memberi kesempatan lebih luas bagi mahasiswa untuk bertukar gagasan, memperluas jejaring akademik, serta menunjang pengembangan karier di masa depan.
Namun demikian, Kafiy mengingatkan bahwa circle pertemanan digital juga memiliki pengaruh besar terhadap pola pikir dan gaya hidup mahasiswa.
Lingkar pertemanan di media sosial dapat membentuk sudut pandang, preferensi, hingga sikap kritis terhadap berbagai isu sosial.
Di sisi lain, jika tidak disikapi secara bijak, pertemanan digital berpotensi menimbulkan echo chamber atau kecenderungan mengikuti arus tanpa proses refleksi yang matang.
Terkait kedekatan emosional, Kafiy menilai pertemanan digital belum sepenuhnya mampu menggantikan interaksi tatap muka.
Ia menekankan bahwa empati dan kelekatan emosional yang utuh masih lebih mudah terbangun melalui pertemuan langsung.
"Pertemanan digital efektif sebagai penguat relasi, tapi bukan pengganti total dari pertemanan di dunia nyata,” pungkasnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.