Keunikan Relief Candi Penataran Blitar
Di balik kemegahan Candi Penataran, kompleks candi tersebut dinilai memiliki relief yang tergolong unik bagi para pecinta sejarah.
Poin Penting
- Candi Penataran Blitar memiliki relief unik.
- Relief bersifat naratif dengan memuat sejumlah kisah.
- Keberadaan inskripsi dinilai bisa jadi petunjuk bagi sejarawan.
Kabar Blitar – Kompleks Candi Penataran di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, terus menjadi magnet perhatian sebagai salah satu peninggalan Majapahit paling utuh di Jawa Timur.
Meski telah berdiri lebih dari delapan abad, situs ini tidak hanya diposisikan sebagai objek arkeologi semata, tetapi juga berfungsi sebagai ruang spiritual, sarana edukasi sejarah, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat sekitar.
Dari sisi arsitektur, Candi Penataran dikenal memiliki relief-relief naratif yang relatif jarang dijumpai pada kompleks candi lain.
Relief tersebut tidak hanya memperkaya nilai estetika, tetapi juga menyimpan cerita penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara.
"Relief di candi utama memuat kisah Ramayana dan Khrisnayana yang menghiasi dinding-dinding utama. Ini memberi nilai estetika sekaligus menjadi sumber pembelajaran sejarah dan budaya,” ujar Lana Faizatussulaimah, mahasiswa sejarah yang berkunjung dalam rangka studi.
Keunikan lain yang menonjol adalah keberadaan berbagai inskripsi berupa tulisan singkat dan penanda tahun.
Lana menjelaskan, inskripsi tersebut tersebar di sejumlah titik, mulai dari pendopo teras, pintu, bangunan candi, patirtan, beberapa arca dwarapala, hingga reruntuhan di bagian selatan kompleks.
Menurutnya, keberadaan inskripsi ini menjadi petunjuk penting bagi penelusuran sejarah pembangunan Candi Penataran.
Relief-relief yang ada di Candi Penataran juga disebut bersifat naratif karena memuat beragam kisah.
“Relief di Penataran itu naratif, ada lebih dari lima kisah. Di candi utama terdapat relief kisah Ramayana dan Khrisnayana,” ungkapnya.
Catatan sejarah menyebutkan, pembangunan Candi Penataran dimulai sejak abad ke-12 dan berkaitan dengan upaya meredam dampak letusan Gunung Kelud.
Proses pembangunannya berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan. Berdasarkan tradisi lokal serta temuan arkeologis, pembangunan candi ini melibatkan beberapa penguasa pada masa berbeda.
“Candi ini dibangun oleh lima raja. Artinya, pembangunannya dilakukan secara berkesinambungan,” tambah Lana.
Di luar fungsi ritual dan edukasi, keberadaan Candi Penataran juga memberi dampak ekonomi bagi warga sekitar, mulai dari pemandu wisata lokal, pedagang suvenir, hingga pelaku usaha mikro yang melayani kebutuhan pengunjung.
Karena itu, perawatan berkelanjutan serta dukungan dari berbagai lembaga terkait dinilai penting agar relief dan struktur batu andesit tetap terjaga.
Pendekatan edukatif kepada pengunjung, khususnya pelajar dan mahasiswa, juga dianggap krusial untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap warisan budaya.
“Candi Penataran ini sangat cocok bagi siswa maupun mahasiswa yang ingin mempelajari sejarah,” tuturnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.