Tak Hanya Eksportir, Mantan PMI Ikut Kenalkan Produk Olahan Blitar ke Luar Negeri
Mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) turut membantu produk makanan olahan asal Kabupaten Blitar menembus pasar luar negeri melalui jaringan pertemanan di berbagai negara, meski masih dalam skala ekspor mandiri.
Poin Penting
- Mantan PMI menjadi jembatan pemasaran produk makanan olahan Kabupaten Blitar ke luar negeri melalui jaringan teman dan komunitas diaspora Indonesia.
- Menurut Disperindag Kabupaten Blitar, ekspor mandiri skala kecil cenderung stabil karena didorong kebutuhan konsumsi pribadi masyarakat Indonesia di luar negeri.
- Disperindag terus mendampingi pelaku UMKM melalui pelatihan, standardisasi mutu, dan pembekalan prosedur ekspor agar mampu menembus pasar internasional dalam skala lebih besar.
Kabar Blitar – Produk makanan olahan asal Kabupaten Blitar ternyata tidak hanya dipasarkan ke mancanegara melalui perusahaan eksportir.
Sejumlah mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) juga ikut berperan mengenalkan produk lokal ke luar negeri dengan memanfaatkan jaringan pertemanan yang mereka bangun selama bekerja di berbagai negara.
Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Murlina, mengatakan hingga kini masih ada mantan PMI yang melakukan pengiriman produk secara mandiri dalam skala kecil.
Pengiriman tersebut umumnya dilakukan untuk memenuhi pesanan dari rekan-rekan yang masih bekerja di luar negeri.
"Ada yang melakukan ekspor sendiri secara individu dalam skala kecil. Mereka memanfaatkan jaringan pertemanan karena sebelumnya pernah bekerja di luar negeri, kemudian sekarang melayani pesanan dari teman-teman yang masih berada di sana," ujarnya.
Menurut Murlina, produk yang paling banyak diminati merupakan makanan olahan khas Indonesia yang sulit diperoleh di negara tempat para pekerja migran tinggal dan bekerja.
Kerinduan terhadap cita rasa kampung halaman membuat permintaan produk tersebut tetap bertahan meski volumenya tidak sebesar ekspor yang dilakukan perusahaan.
Ia menjelaskan, pasar tersebut berkembang secara alami melalui hubungan antarteman, kerabat, hingga komunitas diaspora Indonesia.
Produk diperkenalkan dari mulut ke mulut sehingga jaringan pemasaran terus meluas tanpa harus melalui jalur distribusi besar.
Murlina menilai pola ekspor mandiri memiliki karakter berbeda dibanding ekspor industri. Jika eksportir besar sangat bergantung pada kondisi ekonomi global dan permintaan pasar internasional, pengiriman dalam skala kecil cenderung lebih stabil karena didorong kebutuhan konsumsi pribadi.
"Permintaan dari teman-teman yang berada di luar negeri biasanya terus ada. Karena sifatnya untuk konsumsi, pengirimannya relatif tetap berjalan," katanya.
Meski begitu, Disperindag Kabupaten Blitar tetap mendorong para pelaku UMKM agar dapat meningkatkan kapasitas usahanya hingga mampu menembus pasar ekspor dalam skala lebih besar.
Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan, pelatihan standardisasi mutu produk, hingga pembekalan terkait prosedur ekspor.
"Kami terus memberikan pembinaan kepada pelaku usaha agar memenuhi standar yang dipersyaratkan pasar internasional. Harapannya semakin banyak produk unggulan Kabupaten Blitar yang dapat menembus pasar ekspor secara lebih luas," pungkas Murlina.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.