Susul Pindahnya Pusat Pemerintahan, Pisowanan Agung Blitar Diusulkan Ganti Nama
Prosesi Pisowanan Agung Hari Jadi Blitar berpotensi berganti nama menyusul pindahnya pusat pemerintahan ke Kanigoro; sejumlah nama baru diusulkan budayawan.
Poin Penting
- Prosesi Pisowanan Agung Hari Jadi Blitar diproyeksikan berganti nama menyusul pindahnya pusat pemerintahan kabupaten ke Kanigoro.
- Sejumlah nama alternatif diusulkan budayawan, di antaranya Pasamuan Agung, Paheman, Panangkilan, dan Bahargian Agung — masih bersifat wacana.
- Bupati Rijanto tegaskan esensi Hari Jadi Blitar tetap diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat sesuai visi Berdaya dan Berjaya.
KBRB – Peringatan Hari Jadi ke-702 Blitar menjadi momentum munculnya wacana pembaruan prosesi budaya yang selama ini menjadi bagian dari tradisi tahunan.
Seiring berpindahnya pusat pemerintahan Kabupaten Blitar ke Kanigoro, prosesi Pisowanan Agung diproyeksikan mengalami penyesuaian, termasuk kemungkinan berganti nama.
Panitia Hari Jadi ke-702 Blitar sekaligus Pengamat Budaya Blitar, Suhendro Winarso, mengatakan perubahan tersebut bukan dimaksudkan menghilangkan nilai sejarah, melainkan sebagai bentuk adaptasi budaya yang mengikuti perkembangan zaman.
"Budaya itu dinamis dan hidup di hati masyarakatnya. Istilah yang tepat bukan pemindahan Pisowanan Agung, melainkan penyesuaian bentuk baru. Karena pusat ibu kota kabupaten ada di Kanigoro, tentu filosofinya ikut menyesuaikan," ujarnya usai prosesi Hari Jadi Blitar, Rabu (5/8/2026).
Apabila rangkaian Hari Jadi Blitar nantinya dipusatkan di Kanigoro, menurut Suhendro, istilah Pisowanan Agung dinilai sudah kurang sesuai dengan konsep pelaksanaannya.
Secara etimologis, ia menjelaskan, pisowanan bermakna masyarakat yang datang menghadap atau sowan kepada pemimpin di istananya.
Karena itu, sejumlah nama baru mulai dibahas bersama kalangan budayawan.
Beberapa usulan yang mengemuka di antaranya Pasamuan Agung, Paheman, Panangkilan, hingga Bahargian Agung.
Meski demikian, penamaan tersebut masih bersifat wacana dan akan dibahas lebih lanjut bersama pemerintah daerah.
"Raja atau pemimpin itu tidak hanya bertemu rakyat di dalam istana. Di luar istana pun bisa. Konsep baru ini justru membuka ruang yang lebih luas bagi ekonomi kreatif dan UMKM warga. Kita buat sesuatu yang baru, berakar dari tradisi asli Blitar, namun dikemas adaptif dengan zaman tanpa menghilangkan roh kebudayaannya," ungkapnya.
Sementara itu, Bupati Blitar Rijanto menegaskan esensi peringatan Hari Jadi Kabupaten Blitar tetap diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sejalan dengan visi Kabupaten Blitar Berdaya dan Berjaya.
Pembangunan daerah, menurutnya, memerlukan proses yang didukung semangat gotong royong dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
"Visi berdaya dan berjaya ini butuh proses. Ruh utamanya adalah semangat gotong royong, kerja keras, dan bahu-membahu. Target akhirnya jelas masyarakat semakin sejahtera, merasa nyaman, hidup tenteram, dan Blitar semakin kuncoro," pungkasnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.