Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Blitarpedia

Ratusan Burung Air Huni Alun-Alun Kota Blitar, KSDA Coba Ungkap Asal-usul Keberadaannya

Fenomena koloni Kuntul Kerbau dan Kowak-Malam Abu di Alun-Alun Kota Blitar jadi sorotan, memicu kajian ilmiah terkait asal-usul, populasi, dan dampaknya bagi lingkungan kota.

Ratusan Burung Air Huni Alun-Alun Kota Blitar, KSDA Coba Ungkap Asal-usul Keberadaannya
Keberadaan burung kuntul di Alun-alun Kota Blitar.

Poin Penting

  • Koloni burung air muncul dan berkembang biak di Alun-Alun Kota Blitar.
  • Belum ada data pasti terkait asal-usul dan jumlah populasi burung.
  • Pemerintah dan BBKSDA dorong kajian ilmiah serta penanganan berbasis konservasi.

Kabar Blitar – Fenomena kemunculan burung-burung air di pusat Kota Blitar ini memunculkan pertanyaan yang hingga kini belum terjawab, terutama terkait asal-usul kedatangannya.

Keberadaan koloni burung air ini menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial lantaran diduga membuat estetika Alun-alun Kota Blitar tercemar oleh kotoran burung tersebut.

Pada Selasa (21/4/2026) tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar dari Balai Besar KSDA Jawa Timur melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar sekaligus peninjauan langsung di lokasi.

Hasil penelusuran awal menunjukkan sedikitnya 12 pohon beringin (Ficus benjamina) menjadi tempat bersarang dua jenis burung air yakni Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) dan Kowak-Malam Abu (Nycticorax nycticorax) yang hidup dalam satu koloni aktif.

Di balik rimbunnya pepohonan, burung-burung tersebut terlihat menjalankan aktivitas berkembang biak mulai dari membangun sarang, mengerami telur hingga memberi makan anak, yang menandakan kawasan tersebut telah menjadi habitat penting bagi siklus hidup mereka.

Pemerintah Kota Blitar sendiri telah melakukan langkah awal penanganan melalui pemangkasan dahan rapuh dan pembersihan rutin area alun-alun guna menjaga kenyamanan pengunjung sesuai arahan wali kota.

Namun demikian, hingga saat ini belum tersedia data ilmiah yang komprehensif terkait jumlah populasi, pola sebaran, maupun dinamika koloni burung tersebut sehingga menyulitkan analisis lebih mendalam.

Dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal KSDAE, muncul cerita dari warga sekitar yang menyebut adanya pelepasliaran beberapa pasang burung kuntul oleh orang asing pada dekade 1990-an, meski kisah tersebut belum terverifikasi secara ilmiah.

Spekulasi pun berkembang apakah koloni ini merupakan kelanjutan dari peristiwa masa lalu atau hasil migrasi alami akibat perubahan lingkungan, namun hingga kini belum ada kepastian.

Di satu sisi, keberadaan koloni burung dalam jumlah besar di ruang publik menimbulkan persoalan kebersihan dan kenyamanan, sementara di sisi lain mereka merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang memiliki fungsi ekologis dan perlu dilindungi.

Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) BBKSDA Jawa Timur menilai pendekatan berbasis sains dan kolaborasi menjadi langkah penting dengan rencana tindak lanjut berupa edukasi, identifikasi jenis, serta penghitungan populasi secara sistematis bersama DLH Kota Blitar.

Koordinasi lanjutan dengan akademisi, pemerhati burung, dan berbagai pihak juga akan dilakukan untuk merumuskan kebijakan yang seimbang antara kepentingan manusia dan kelestarian satwa liar di kawasan perkotaan.

Pada akhirnya, fenomena ini tidak hanya menyisakan pertanyaan tentang asal-usul burung, tetapi juga menjadi refleksi tentang relasi antara ruang kota dan alam, serta sejauh mana manusia masih menyediakan tempat bagi kehidupan liar untuk tetap bertahan.

#Alun-alun Kota Blitar #Pemkot Blitar

Komentar 0

Baca Juga