Kisah Operasi Trisula Blitar Selatan, Film The Last Supper Bawa Penonton Balik ke 1968
Film dokumenter Last Supper (Whisper) karya Daniel Rudi Haryanto mengangkat kisah tiga petani korban Operasi Trisula 1968 di Blitar Selatan yang menjadi tahanan politik.
Poin Penting
Last Supper mengangkat kisah tiga petani Blitar Selatan dalam Operasi Trisula 1968.
Tiga petani di Blitar tersebut menjadi korban penangkapan dan tahanan politik.
Last Supper (Whisper) pertama kali ditayangkan di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2025.
Kabar Blitar – Luka tiga petani yang menjadi korban Operasi Trisula di Blitar Selatan kembali diangkat melalui film dokumenter Last Supper (Whisper) atau Santap Malam Terakhir karya sutradara Daniel Rudi Haryanto.
Film berdurasi 109 menit tersebut merekam kisah tiga mantan tahanan politik yang menjadi korban penangkapan dan penahanan dalam operasi militer pada 1968, yakni Markus Talam (87), Suyatman (76), dan Soekiman yang meninggal pada 2020 pada usianya yang ke 72 tahun.
Ketiganya adalah petani yang dituding sebagai simpatisan komunis dan ditahan tanpa proses pengadilan.
Soekiman dan Suyatman dibebaskan setelah mendapatkan kekerasan di penjara Blitar.
Sedangkan Talam lebih malang, dia harus menjalani sekitar satu dekade kerja paksa di kamp konsentrasi Pulau Buru, Maluku.
Ketiganya memang mendapatkan surat setelah keluar dari tahanan, tetapi dokumen tersebut disebut sebagai “Surat Pelepasan Sementara” sehingga bukan merupakan surat pembebasan penuh.
Pengalaman selama penahanan kemudian meninggalkan trauma yang dibawa ketiganya selama puluhan tahun.
Bagi Talam, gendingan suara gamelan menjadi momok yang memicu ingatan terhadap masa ketika aparat militer menggedor pintu rumahnya.
Sementara itu, Suyatman terus hidup dengan dibayangi-bayangi kisah Goa Tikus yang menjadi bagi tempat saudara perempuannya dan puluhan warga lain disebut dieksekusi.
Trauma tersebut juga berkelindan dengan stigma sebagai “komunis”, perampasan aset berupa tanah dan kebun, serta larangan bekerja di instansi pemerintah yang mereka alami setelah peristiwa tersebut.
Film Last Supper (Whisper) menggambarkan ketiga petani tersebut ketika berada di usia senja dan kembali berkumpul dalam sebuah “santap malam terakhir”.
Dalam pertemuan tersebut, mereka berbagi pengalaman masing-masing dengan suara lirih yang sesekali disertai tangis.
Film Last Supper (Whisper) tidak hanya merekam kesaksian para penyintas, tetapi juga berusaha menjaga pengalaman mereka agar tidak hilang seiring bertambahnya usia.
Ingatan tersebut menjadi penting karena para penyintas yang masih hidup kini semakin habis dimakan oleh usia, sementara pengalaman kekerasan yang dialami oleh mereka selama puluhan tahun belum banyak terdokumentasikan secara visual.
Last Supper (Whisper) diproduksi selama periode 2017 hingga 2025 dengan memadukan dokumentasi, animasi, desain suara, serta simbol-simbol budaya Jawa khas Blitar Selatan.
Pendekatan tersebut digunakan untuk membangun suasana yang dapat membuat penonton turut merasakan pengalaman traumatis yang dialami para subjek film.
Film besutan dari Daniel Rudi Haryanto itu pertama kali ditayangkan dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2025.
Pada April 2026, Last Supper (Whisper) juga ditayangkan dalam Festival International de Cinéma Asiatique de Tours (FICAT) di Prancis dan berhasil menyabet predikat “Best Film”.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.