Hujan Bisa Turun di Tengah Musim Kemarau, BPBD Blitar: Bukan Pertanda Musim Hujan
BPBD Kabupaten Blitar ingatkan warga tidak salah tafsir hujan yang turun di tengah musim kemarau, jelaskan faktor MJO hingga topografi sebagai pemicu.
Poin Penting
- BPBD Kabupaten Blitar tegaskan hujan di tengah musim kemarau masih fenomena normal, dipicu dinamika atmosfer seperti MJO dan faktor lokal.
- Hujan satu-dua kali saat kemarau belum jadi patokan awal musim hujan; penentuannya berdasarkan curah hujan dasarian yang memenuhi kriteria tertentu.
- Puncak musim kemarau Jawa Timur 2026 diprediksi sekitar Agustus, mencakup sekitar 70,9 persen atau 53 zona musim.
Kabar Blitar – Hujan yang turun di Kabupaten Blitar di tengah musim kemarau tidak serta-merta menandakan musim hujan telah dimulai.
Fenomena tersebut masih dapat terjadi akibat dinamika atmosfer dan faktor lokal.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, mengatakan hujan episodik pada periode kemarau merupakan fenomena yang masih normal terjadi.
"Hujan di tengah musim kemarau di Jawa Timur adalah hal yang normal, dipicu dinamika atmosfer dan faktor lokal," kata Wahyudi.
Terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu terbentuknya awan hujan saat musim kemarau, menurutnya.
Salah satunya adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang dapat meningkatkan kelembapan dan memicu pembentukan awan hujan di Indonesia.
"Untuk penyebabnya ada beberapa faktor, di antaranya Madden-Julian Oscillation atau MJO, gelombang atmosfer Kelvin dan Rossby, konvergensi angin dan sirkulasi siklonik, serta faktor lokal Jawa Timur," ujarnya.
Faktor lokal tersebut antara lain pemanasan permukaan pada siang hari, kelembapan yang cukup tinggi dan pengaruh topografi.
Kondisi tersebut dapat memicu pertumbuhan awan konvektif yang kemudian menghasilkan hujan, terutama pada sore hingga malam hari.
Kondisi dasar pada musim kemarau, Wahyudi menjelaskan, dipengaruhi Monsun Australia yang membawa udara kering ke Indonesia.
Namun, aktivitas MJO, gelombang atmosfer maupun konvergensi aktif dapat meningkatkan kelembapan.
"Ketika kelembapan meningkat, udara lembap naik dan atmosfer menjadi labil. Kondisi itu kemudian memungkinkan awan cumulonimbus berkembang dan terjadi hujan," jelasnya.
Hujan yang terbentuk dalam kondisi tersebut dapat memiliki intensitas beragam, mulai ringan hingga lebat, dengan durasi singkat maupun berlangsung selama beberapa jam.
Sementara itu, hujan yang turun satu atau dua kali saat musim kemarau belum dapat dijadikan patokan bahwa musim hujan telah dimulai.
"Awal musim hujan belum tentu ditandai hanya dengan satu atau dua kali hujan saat musim kemarau. Penentuannya berdasarkan curah hujan dasarian atau 10 hari yang memenuhi kriteria tertentu dan diikuti kondisi pada dua dasarian berikutnya," katanya.
Berdasarkan informasi dalam infografis tersebut, puncak musim kemarau di Jawa Timur pada 2026 diprediksi terjadi sekitar Agustus, dengan cakupan sekitar 70,9 persen atau 53 zona musim.
Wahyudi mengingatkan masyarakat tetap waspada meski hujan yang turun di tengah musim kemarau masih tergolong normal.
"Yang perlu diperhatikan adalah potensi hujan lebat yang dapat menimbulkan bencana hidrometeorologi. Karena itu, masyarakat tetap perlu waspada terhadap perkembangan cuaca," pungkasnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.