Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Ekonomi

Harga Telur di Blitar Paling Jeblok di Jatim, Kementan Soroti Ketimpangan Pasokan dan Daya Serap Pasar

Harga telur ayam ras di Kabupaten Blitar menjadi yang terendah di Jawa Timur pada 5 Oktober 2026, yakni sekitar Rp20.100 per kilogram.

Koordinasi Perunggasan Nasional
Koordinasi Perunggasan Nasional

Poin Penting

  • Harga telur ayam ras di Kabupaten Blitar tercatat Rp20.100 per kilogram.

  • Harga telur di Blitar lebih rendah dari rata-rata Jawa Timur Rp21.800 per kilogram.

  • Kementan mendorong distribusi telur dari Blitar dan daerah sentra produksi lainnya.

Kabar Blitar – Harga telur ayam ras di Kabupaten Blitar menjadi yang terendah di Jawa Timur berdasarkan pemantauan harga pada 5 Oktober 2026.

Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur melaporkan harga telur ayam ras di Blitar berada di kisaran Rp20.100 per kilogram, lebih rendah dibandingkan rata-rata harga telur di Jawa Timur yang mencapai Rp21.800 per kilogram.

Sementara harga tertinggi tercatat di Kabupaten Lumajang dengan Rp22.500 per kilogram.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Kementerian Pertanian (Kementan) karena Blitar merupakan salah satu daerah sentra produksi telur ayam ras dengan jumlah pasokan yang cukup besar.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan tekanan harga cenderung terjadi di daerah sentra produksi ketika pasokan lebih besar dibandingkan daya serap pasar.

“Daerah-daerah sentra ini harus terus didorong agar harga telur ini bisa naik dan salah satunya adalah mendistribusikan ke wilayah timur yang memang harganya masih cukup tinggi,” ujarnya, Selasa (6/10/2026).

Menurut Agung, distribusi telur dari daerah surplus menuju wilayah yang membutuhkan perlu diperkuat untuk membantu menjaga keseimbangan antara produksi dan permintaan.

Selain distribusi, penyesuaian produksi juga menjadi salah satu langkah yang didorong pemerintah agar pasokan tidak melebihi kemampuan penyerapan pasar.

Pengaturan populasi ayam serta afkir ayam yang telah memasuki akhir masa produktif dinilai perlu dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar.

Agung mengatakan stabilisasi harga telur tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri karena sebagian besar produksi telur berasal dari peternak rakyat.

“Harga telurnya harus naik dan ini tidak bisa hanya pemerintah,” ujar Agung.

Kementan juga meminta pemerintah daerah memperkuat pemantauan populasi dan produksi ayam petelur serta kondisi pasokan dan permintaan di wilayah masing-masing.

Data tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi produksi secara lebih akurat sekaligus menjadi dasar dalam menentukan langkah ketika terjadi ketidakseimbangan pasokan.

Pengawasan peredaran dan distribusi telur juga menjadi bagian dari pelaksanaan Permentan Nomor 10 Tahun 2024 tentang Penyediaan, Peredaran, dan Pengawasan Ayam Ras dan Telur Konsumsi.

Agung meminta sosialisasi dan pelaksanaan aturan tersebut diperkuat, terutama di daerah yang menjadi sentra produksi.

“Mohon ini Permentan 10 Tahun 2024, sosialisasi seperti ini dimasifkan terutama di daerah-daerah sentra produksi,” kata Agung.

Menurutnya, persoalan harga telur perlu ditangani berdasarkan data produksi, distribusi dan kebutuhan pasar sehingga kondisi di tingkat peternak dapat lebih terpantau.

“Kami fasilitasi dan kami sinergikan bersama,” ujar Agung.

#Kementan RI #Telur Blitar

Komentar 0

Baca Juga