Gampang Terhasut Lingkungan, Kapolres Blitar Kota Ungkap Alasan Kenakalan Remaja
Kapolres Blitar Kota AKBP Kalfaris Triwijaya Lalo ungkap FOMO, rasa penasaran, dan keinginan diakui jadi alasan remaja sulit berkata tidak pada pergaulan negatif.
Poin Penting
- Kapolres Blitar Kota sebut FOMO, rasa penasaran, dan keinginan validasi jadi tiga faktor utama remaja sulit menolak ajakan pergaulan berisiko.
- Ia tegaskan remaja tidak perlu membuktikan diri kepada orang lain; validasi terbaik datang dari menghargai diri sendiri.
- Remaja diajak berani berkata "tidak" pada hal negatif demi menjaga cita-cita dan masa depan.
KBRB – Penyalahgunaan narkoba, tawuran, hingga pergaulan bebas menjadi sejumlah risiko yang dapat membawa konsekuensi panjang bagi remaja.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik dan mental, tetapi juga dapat berujung pada persoalan hukum.
Lewat akun Instagram pribadinya, Kapolres Blitar Kota AKBP Kalfaris Triwijaya Lalo mengatakan meski memahami adanya risiko tersebut, sebagian remaja masih sulit menolak ajakan atau pengaruh dari lingkungan pergaulan.
Salah satu faktor yang membuat remaja sulit berkata tidak, menurutnya, adalah Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut tertinggal dari kelompok pertemanan.
Remaja dapat merasa khawatir dikucilkan apabila tidak mengikuti aktivitas yang dilakukan teman-temannya, kondisi yang membuat mereka terkadang mengambil keputusan yang sebenarnya berisiko.
Faktor berikutnya adalah rasa penasaran atau curiosity.
Pada masa remaja, keinginan untuk mengetahui dan mencoba sesuatu yang baru dapat menjadi dorongan kuat dalam mengambil keputusan.
Selain itu, keinginan memperoleh validasi dari lingkungan juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan — sebagian remaja ingin dianggap keren, diakui, dan diterima dalam kelompok pergaulan.
"Remaja biasanya sulit untuk berkata tidak. Pertama, alasannya karena FOMO, mereka takut ketinggalan dan takut dikucilkan dari pergaulan," kata Kalfaris.
Ketiga faktor tersebut, menurutnya, dapat membuat remaja mengabaikan konsekuensi dari tindakan yang dilakukan.
Padahal, pilihan yang diambil pada masa remaja dapat memberikan dampak terhadap kehidupan mereka di kemudian hari.
Karena itu, remaja tidak perlu merasa harus membuktikan diri kepada orang lain demi mendapatkan pengakuan.
Kemampuan untuk menghargai dan menjaga diri justru menjadi bentuk validasi yang lebih penting.
"Meskipun demikian, pada sejatinya remaja tidak harus membuktikan apa pun kepada siapa pun. Validasi terbaik justru datang saat remaja dapat menghargai dirinya sendiri," ujarnya.
Kalfaris menilai remaja perlu memiliki keberanian untuk menentukan batas dalam pergaulan, termasuk berani menolak ajakan yang berpotensi merugikan diri sendiri.
Ia mengingatkan agar remaja tidak mengorbankan cita-cita hanya demi mendapatkan penerimaan sesaat dari lingkungan pertemanan.
"Mimpi atau cita-cita dari remaja adalah masa depan yang harus dicapai. Remaja harus berani berkata 'tidak' pada hal negatif demi menjaga masa depan," pungkasnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.