Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Wisata

Warisan Majapahit yang Terlupakan, Situs Balekambang Blitar Masih Sepi Wisatawan

Meski berdekatan dengan Candi Penataran dan Perkebunan Karanganyar, wisata sejarah Situs Balekambang Blitar nyata sepi peminat.

Warisan Majapahit yang Terlupakan, Situs Balekambang Blitar Masih Sepi Wisatawan
Situs Balekambang Blitar masih sepi pengunjung.

Poin Penting

  • Wisata sejarah Situs Balekambang Blitar masih sepi pengunjung.
  • Situs Balekambang Blitar menyimpan sejarah Kerajaan Majapahit.
  • Situs Balekambang Blitar kalah pamor dari Candi Penataran dan Perkebunan Karanganyar.

Kabar Blitar – Wisata Situs Balekambang yang berada di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar hingga kini masih tergolong sepi pengunjung. 

Sejak pertama kali dibuka untuk umum pada 2012 lalu, destinasi wisata sejarah ini belum banyak dilirik, meski menyimpan nilai historis dan kisah perjalanan yang unik.

Situs Balekambang merupakan peninggalan dari masa Kerajaan Majapahit yang berdiri di atas lahan berukuran sekitar 20 x 80 meter persegi. 

Situs Umpak Balekambang yang dibangun pada era Kerajaan Kediri ini memiliki struktur khas berupa sekitar 36 umpak batu yang tersusun berjajar dengan orientasi mengarah ke utara. 

Susunan umpak tersebut menjadi penanda penting dari jejak arsitektur bangunan masa lampau yang masih dapat diamati hingga kini.

Secara keseluruhan, situs ini terbagi dalam tiga teras. Teras pertama berupa halaman terbuka tanpa struktur bangunan. 

Dari area ini, pengunjung akan menjumpai struktur tangga yang menghadap ke arah selatan sebagai akses menuju teras kedua. 

Pada teras kedua tersebut ditemukan lima buah umpak yang tersusun rapi, diduga menjadi bagian penting dari struktur bangunan utama.

Sementara itu, akses menuju teras ketiga tidak ditemukan adanya struktur tangga. Pada teras paling atas ini, terdapat susunan umpak yang lebih dominan, yakni sebanyak 10 baris, dengan masing-masing baris terdiri dari tiga buah umpak. 

Menariknya, sekitar lima meter di depan barisan umpak tersebut terdapat satu buah umpak tambahan yang diperkirakan merupakan bagian dari teras kedua, sehingga memperkuat dugaan adanya kesinambungan struktur antar teras.

Berdasarkan sisa-sisa bangunan yang masih ada, para peneliti memperkirakan bentuk asli Situs Umpak Balekambang menyerupai bangunan pendopo, yang pada masa lalu kemungkinan digunakan sebagai ruang pertemuan atau kegiatan penting. 

Karakter bangunan semacam ini lazim ditemukan pada situs-situs yang memiliki fungsi sosial maupun seremonial.

Secara geografis, lokasi Situs Umpak Balekambang juga tergolong strategis karena berada tidak jauh dari Candi Penataran serta Arca Warak. 

Kedekatan dengan dua tinggalan bersejarah tersebut semakin menegaskan kawasan ini sebagai salah satu pusat aktivitas penting pada masa kerajaan di wilayah Blitar, sekaligus memperkaya potensi wisata sejarah dan edukasi yang dimilikinya.

Secara geografis, lokasi situs ini cukup strategis karena berdekatan dengan destinasi wisata populer di Kabupaten Blitar, seperti Kompleks Candi Penataran dan Perkebunan Karanganyar. Namun, kedekatan tersebut belum mampu mendongkrak jumlah kunjungan ke Situs Balekambang.

Juru Pelihara Situs Balekambang, Ari Widodo, mengatakan bahwa dalam satu bulan jumlah pengunjung yang datang ke lokasi tersebut hanya berkisar 50 orang. 

Angka tersebut dinilai masih jauh dari standar kunjungan tempat wisata bersejarah lainnya di Kabupaten Blitar.

“Kunjungan Wisata Situs Balekambang di Kabupaten Blitar itu masih jauh di bawah standar tempat wisata bersejarah lainnya,” ujar Ari.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Kompleks Candi Penataran yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Situs Balekambang. 

Candi Penataran diketahui mampu menarik hingga sekitar 5.000 pengunjung setiap bulannya, baik dari dalam maupun luar daerah.

Menurut Ari, minimnya jumlah pengunjung juga berdampak pada sulitnya pengelola menaikkan level pengelolaan situs ke tahap yang lebih tinggi. 

Pasalnya, salah satu syarat peningkatan status destinasi wisata adalah tingginya antusiasme pengunjung yang didukung fasilitas penunjang yang memadai.

“Untuk bisa naik level, harus ada dukungan dari sisi kunjungan dan fasilitas. Kalau pengunjung masih sedikit, tentu sulit untuk berkembang,” jelasnya.

Meski demikian, Ari menyebutkan bahwa pengunjung Situs Balekambang berasal dari beragam latar belakang. Selain pelajar dan wisatawan yang datang untuk berekreasi, ada pula pengunjung dengan tujuan spiritual.

“Ada juga pengunjung yang masih melestarikan adat terdahulu, seperti ketika punya hajat nikah atau keperluan tertentu, biasanya menggelar genduri atau sesaji,” terangnya.

Tidak hanya dikunjungi warga lokal, Situs Balekambang juga pernah didatangi wisatawan mancanegara. 

Ari mengungkapkan, beberapa pengunjung berasal dari luar negeri, seperti Italia, yang umumnya merupakan mahasiswa maupun peneliti yang melakukan studi dan penelitian sejarah.

Pengelola berharap, ke depan Situs Balekambang bisa mendapat perhatian lebih, baik dari pemerintah maupun masyarakat, sehingga potensi sejarah dan budaya yang dimiliki dapat dikenal lebih luas serta memberi manfaat bagi pengembangan pariwisata Kabupaten Blitar.

#Situs Balekambang Blitar #Wisata sejarah Blitar

Komentar 0

Baca Juga