Sempat Lari Sebelum KM Virgo Karam, Jenazah Warga Blitar Ditemukan 18 Hari Kemudian
Jarot Setiawan (51), warga Desa Plosorejo, Blitar, menjadi korban Kapal Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa pada 13 September 2026. Jenazahnya ditemukan dan teridentifikasi melalui tes DNA sebelum dimakamkan di kampung halaman.
Poin Penting
Warga Blitar menjadi korban kecelakaan Kapal Virgo Transport 8.
Korban sempat berusaha menyelamatkan diri saat kapal mulai miring.
Kabar Blitar – Jarot Setiawan (51), warga Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, sempat berusaha menyelamatkan diri ketika KM Virgo Transport 8 mulai miring sebelum akhirnya terbalik dan tenggelam di Laut Jawa, Minggu (13/9/2026) dini hari.
Upaya Jarot menyelamatkan diri tersebut diceritakan kembali oleh keponakannya, Syaiful Anwar (42), yang selamat dalam kecelakaan kapal tersebut.
Syaiful saat itu berada satu kapal dengan Jarot dalam perjalanan membawa barang dari Jawa Timur menuju Kalimantan.
"Saya bangun melihat Paklik [Jarot] lari duluan, saya ikut lari. Ketika itu, kapal sudah miring," kata Syaiful Anwar (42), saat menceritakan kembali detik-detik peristiwa Kapal Virgo terbalik di Laut Jawa usai pemakaman pamannya di TPU Desa Plosorejo, Jumat (2/10/2026).
Sejak kapal mengalami kecelakaan, keberadaan Jarot belum diketahui hingga akhirnya jenazahnya ditemukan dan teridentifikasi pada Kamis (1/10/2026).
Jenazah bapak dua anak tersebut kemudian dipulangkan ke rumah duka di Desa Plosorejo pada Jumat (2/10/2026).
Setelah disemayamkan dan disalatkan, jenazah Jarot dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.
Terbangun Tatkala Kapal Mulai Miring
Syaiful mengatakan dirinya bersama Jarot dan sejumlah penumpang lain sedang beristirahat di ruang sopir ketika kondisi kapal mulai berubah.
Saat itu, Syaiful yang bekerja sebagai sopir truk ekspedisi tengah melakukan perjalanan bersama Jarot untuk mengirim barang dari Gresik menuju Palangkaraya.
Keduanya menaiki Kapal Virgo dengan rute Surabaya-Banjarmasin.
Syaiful kemudian terbangun setelah seorang penumpang membangunkannya sambil memberitahukan bahwa posisi kapal sudah miring.
Ketika membuka mata, Syaiful melihat Jarot sudah lebih dulu bergerak meninggalkan ruangan untuk mencari jalan keluar.
"Saat melihat Paklik [Jarot] lari, saya ikut lari sambil mengambil jaket pelampung," ujarnya.
Syaiful berusaha mengikuti pamannya keluar dari ruangan, tetapi kondisi di bagian luar kapal sudah dipenuhi penumpang yang berdesakan.
Dia kemudian berusaha menerobos kerumunan untuk mencapai bagian luar kapal.
"Saya melompat dari orang-orang yang berkumpul, saya akhirnya bisa keluar, saya naik ke atap, terus terkena ombak," katanya.
Setelah berhasil keluar, Syaiful kemudian mencapai sekoci yang juga dinaiki sejumlah penumpang dan anak buah kapal (ABK).
Sekitar pukul 08.00 WIB pada Minggu (13/9/2026), Syaiful bersama penumpang lain yang berada di sekoci berhasil dievakuasi oleh Kapal Pertamina.
"Saya dievakuasi pukul 08.00 WIB oleh Kapal Pertamina. Ketika itu, saya masih di sekoci bersama ABK dan penumpang lain," ujarnya.
Syaiful kemudian memilih tetap berada di Banjarmasin selama sekitar dua pekan untuk mengikuti proses pencarian Jarot.
Identitas Jarot Dipastikan Melalui Tes DNA
Harapan keluarga untuk menemukan Jarot akhirnya mendapat kepastian setelah jenazahnya ditemukan pada Kamis (1/10/2026).
Saat pertama kali ditemukan, petugas mengenali jenazah tersebut berdasarkan sejumlah barang yang masih dikenakan, yakni gelang, kaus, dan jaket.
Untuk memastikan identitasnya, petugas kemudian melakukan pemeriksaan DNA.
"Setelah dilakukan tes DNA, petugas baru memastikan itu jenazah Paklik [Jarot]. Dan hari ini jenazah dipulangkan ke rumah duka," ujarnya.
Jenazah Jarot selanjutnya dibawa ke Blitar dan tiba di rumah duka pada Jumat (2/10/2026).
Setelah menjalani prosesi pemakaman, Jarot dimakamkan di TPU Desa Plosorejo.
Baru Tiga Kali Mengikuti Pengiriman ke Luar Jawa
Syaiful mengatakan perjalanan bersama dirinya menggunakan kapal menuju Kalimantan menjadi salah satu pengalaman baru bagi Jarot.
Selama ini Jarot memang bekerja sebagai sopir, tetapi aktivitas pengiriman barang yang dijalaninya lebih banyak berada di wilayah Jawa Timur.
"Paklik Jarot memang sopir, tapi belum pernah menyeberang, hanya kirim barang di lokal Jawa Timur. Tiga kali ini ia ikut saya, nanti kalau sudah hafal jalan, akan kirim sendiri ke luar Jawa," katanya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.