Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Wisata

152 Tahun Berdiri, De Karanganjar Blitar Simpan Sejarah Persinggahan Bung Karno

De Karanganjar Koffieplantage Blitar menyimpan wisata sejarah melalui Roemah Lodji dan Museum Noegroho. Pengunjung dapat melihat Kamar 806 jejak Bung Karno, benda pusaka, lukisan, hingga Batik Tutur.

Kamar 806 Bung Karno di Blitar
Kamar 806 Bung Karno di de Karanganjar Blitar. (KBRB)

Poin Penting

  • De Karanganjar Koffieplantage berada di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, kawasan perkebunan kopi bersejarah yang telah berkembang sejak 1874.

  • Roemah Lodji menyimpan Kamar 806 yang dikaitkan dengan kunjungan Presiden Soekarno pada 1957, lengkap dengan koleksi dan lukisan Bung Karno karya pelukis Blitar, Satriyoko.

  • Museum Noegroho menghadirkan koleksi keluarga, benda pusaka, lukisan, dan Batik Tutur Blitar, sehingga De Karanganjar menawarkan perpaduan wisata perkebunan, sejarah, dan budaya lokal.

Kabar Blitar – Perkebunan kopi De Karanganjar Koffieplantage di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, menyimpan lebih dari sekadar pemandangan kebun.

Di kawasan yang berdiri sejak 1874 ini, pengunjung juga bisa menelusuri jejak Presiden Soekarno lewat sejumlah museum yang menyimpan koleksi keluarga, benda pusaka, dan lukisan bersejarah.

Salah satu bangunan yang menarik perhatian adalah Roemah Lodji, berusia lebih dari satu abad.

Di dalamnya tersimpan cerita keluarga Roeshadi, yang selama tiga generasi mengelola perkebunan tersebut.

Salah satu ruangnya, Kamar Ejang, menjadi tempat beristirahat Denny Roeshadi dan Romingah.

Denny awalnya bekerja sebagai mandor perkebunan kopi pada masa kolonial Belanda, sebelum ikut terjun ke medan pertempuran saat masa perjuangan. Setelah perang usai, ia kembali dan menikahi Romingah.

Di akhir 1950-an, pemerintah Indonesia mengalihkan aset-aset yang sebelumnya dikelola pihak asing kepada para veteran perang kemerdekaan.

Dari kebijakan itulah Denny dan Romingah mendirikan PT yang menjadi cikal bakal perkebunan kopi Karanganjar.

Ruangan lain yang paling banyak menyita perhatian pengunjung adalah Kamar 806, didedikasikan untuk Presiden Soekarno.

Kamar ini berkaitan dengan kunjungan Bung Karno ke De Karanganjar pada 1957, saat ia disebut sempat beristirahat beberapa jam di sana.

Sejumlah perabot yang dikaitkan dengan kunjungan itu masih menjadi bagian dari kamar tersebut, dilengkapi lukisan besar Bung Karno karya pelukis asal Blitar, Satriyoko.

Di luar Kamar 806, Roemah Lodji juga menghadirkan cerita orang-orang yang pernah tinggal dan bekerja di lingkungan perkebunan, lewat benda-benda peninggalan keluarga.

Jejak sejarah berlanjut di Museum Noegroho, yang mengambil nama Herry Noegroho, salah satu pemilik perkebunan yang pernah menjabat Bupati Blitar.

Sebagian besar koleksinya berasal dari milik pribadi Herry Noegroho dan putranya, Wima Brahmantya, berupa benda pusaka, lukisan, dan koleksi budaya yang terkait sejarah Blitar.

Salah satu koleksi yang menonjol adalah Batik Tutur.

Kain ini dulunya dikenal dengan nama "Batik Afkomstig Uit Blitar, 1902", sebelum ditemukan kembali lewat koleksi museum di Leiden, Belanda.

Nama Tutur sendiri diambil dari istilah Jawa kuno "pitutur", yang berarti nasihat.

Bagi pengelola, keberadaan Roemah Lodji dan Museum Noegroho membuat De Karanganjar menawarkan lebih dari wisata perkebunan kopi semata — pengunjung juga bisa mengikuti jejak Bung Karno, melihat koleksi keluarga Roeshadi dan Noegroho, sekaligus mengenal sejarah Batik Tutur di tengah kebun yang masih beroperasi hingga kini.

#De Karanganjar Koffieplantage #Rumah Lodji Blitar #Wisata Blitar

Komentar 0

Baca Juga