Review Film Andai Waktu Bisa Diulang Kembali, Ketika Cinta Tak Punya Pilihan Karena Kemiskinan
KBRB – Bukan penyakit atau kisah cintanya yang menjadi bagian paling menyakitkan dalam film Andai Waktu Bisa Diulang Kembali, melainkan bagaimana kemiskinan bisa merampas kebebasan seseorang untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri.
Film drama berdurasi sekitar 97 menit ini mulai tayang di bioskop pada 30 Juli 2026.
Film tersebut disutradarai M. Amrul Ummami dan diproduksi FMM Studios bersama Langit Pictures Indonesia, sementara skenarionya ditulis Muhammad Ali Ghifari.
Film ini dibintangi Davina Karamoy, Farhan Rasyid, Vonny Anggraini, Bismo Satrio, Nadzira Shafa, Mazaki Ahmad, serta sejumlah pemeran pendukung lainnya.
Cerita berpusat pada Dinar (Davina Karamoy), seorang mahasiswi yang hanya tinggal bersama ibunya, Mama Endang (Vonny Anggraini).
Sejak kecil, Dinar mendapatkan kasih sayang penuh dari sang ibu.
Namun, di balik kehidupan yang terlihat baik-baik saja, Mama Endang menyimpan masalah besar yang tidak pernah diceritakannya kepada putrinya.
Mama Endang harus menanggung utang peninggalan mendiang suaminya sekaligus menghadapi penyakit kanker yang terus menggerogoti tubuhnya.
Semua persoalan tersebut sengaja disembunyikan agar Dinar tetap bisa menjalani kehidupannya tanpa merasa terbebani oleh kondisi sang ibu.
Di tengah kehidupan yang serba terbatas, Dinar kemudian bertemu Faiz (Farhan Rasyid).
Kehadiran Faiz membuat kehidupan Dinar terasa lebih berwarna.
Hubungan keduanya berkembang menjadi sebuah kisah cinta yang hangat dan bahkan mendapat dukungan dari Mama Endang.
Sayangnya, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama.
Biaya kuliah yang terus menumpuk, utang keluarga, serta kebutuhan pengobatan Mama Endang membuat Dinar berada dalam kondisi yang semakin sulit.
Ia harus menghadapi persoalan yang tidak mungkin diselesaikan hanya dengan cinta atau keinginan untuk tetap bertahan.
Pada saat itulah Firman (Bismo Satrio) datang menawarkan bantuan.
Ia bersedia menyelesaikan persoalan finansial yang dihadapi Dinar, tetapi bantuan tersebut memiliki harga yang sangat mahal.
Dinar akhirnya dihadapkan pada pilihan yang seharusnya tidak perlu dihadapi siapa pun.
Ia harus menentukan apakah akan mempertahankan kehormatan dan cintanya atau mengorbankan semuanya demi memberikan kesempatan hidup kepada ibunya.
Ketika Uang Menentukan Pilihan Hidup
Film Andai Waktu Bisa Diulang Kembali menarik karena memperlihatkan bagaimana persoalan ekonomi dapat mengubah sesuatu yang sebenarnya sederhana menjadi begitu rumit.
Kuliah yang seharusnya menjadi jalan menuju masa depan justru berubah menjadi beban.
Hubungan yang seharusnya membawa kebahagiaan malah dipenuhi kecemasan.
Bahkan hubungan ibu dan anak ikut dibayangi rasa bersalah karena keduanya sama-sama memilih menyembunyikan penderitaan demi melindungi satu sama lain.
Dinar juga tidak digambarkan sebagai perempuan yang lemah.
Ia hanya berada dalam keadaan yang terus mendesaknya dari berbagai arah.
Ketika satu per satu jalan keluar tertutup, pilihan Dinar bukan lagi sekadar tentang mana yang benar dan mana yang salah.
Ia justru harus memilih keputusan yang menurutnya paling sedikit menimbulkan rasa sakit.
Hal tersebut terasa dekat dengan kehidupan nyata.
Tidak semua orang mengambil keputusan buruk karena memang menginginkannya.
Ada orang yang memilih jalan tersebut karena merasa tidak lagi mempunyai pilihan lain.
Film ini mampu menangkap perasaan tersebut tanpa terlalu banyak menggurui penonton.
Kisah Cinta Dinar dan Faiz
Hubungan Dinar dan Faiz juga tidak dibuat terlalu berlebihan. Romansa keduanya terasa sederhana dan tulus.
Faiz menjadi salah satu sumber kebahagiaan bagi Dinar ketika kehidupannya sedang tidak mudah.
Dinar ingin menjalani kehidupan bersama orang yang dicintainya, tetapi keadaan kembali menunjukkan bahwa keinginan tersebut tidak selalu bisa diwujudkan.
Uang menjadi salah satu tembok terbesar yang memisahkan mereka.
Dari sisi cerita, film ini memang masih menggunakan formula drama keluarga yang cukup familiar.
Beberapa perkembangan konfliknya juga mudah ditebak sehingga tidak banyak memberikan kejutan bagi penonton.
Namun, menurut saya, kekuatan Andai Waktu Bisa Diulang Kembali memang bukan terletak pada plot twist.
Film ini lebih mengandalkan tekanan emosional yang dialami Dinar dan pilihan-pilihan sulit yang harus dihadapinya.
Penonton tidak diajak menebak apa yang akan terjadi, tetapi lebih banyak diajak memahami mengapa Dinar sampai berada pada titik tersebut.
Kemiskinan dan Hilangnya Kebebasan Memilih
Pada akhirnya, Andai Waktu Bisa Diulang Kembali bukan sekadar film tentang cinta atau pengorbanan seorang anak untuk ibunya.
Film ini menunjukkan bahwa kemiskinan bisa mengambil sesuatu yang sangat berharga dari manusia, yaitu kebebasan untuk memilih.
Ketika biaya pengobatan, pendidikan, dan utang datang secara bersamaan, seseorang bisa berada dalam kondisi yang memaksanya mengambil keputusan yang sebenarnya tidak pernah ingin dilakukan.
Itulah yang membuat film ini terasa relevan.
Keinginan untuk memutar waktu dalam cerita bukan hanya tentang menyesali keputusan masa lalu.
Para tokohnya sebenarnya ingin memiliki kehidupan yang berbeda, sebuah kehidupan yang tidak memaksa mereka mengambil pilihan-pilihan menyakitkan.
Sebab, terkadang yang perlu diubah bukanlah keputusan seseorang, melainkan keadaan yang membuat seseorang terpaksa mengambil keputusan tersebut.
Dan menurut saya, di situlah letak rasa sakit terbesar dari Andai Waktu Bisa Diulang Kembali.
Film ini tidak hanya berbicara tentang keluarga, cinta, penyakit, atau pengorbanan.
Lebih dari itu, film ini memperlihatkan bagaimana keadaan ekonomi dapat menentukan pilihan hidup seseorang.
Buat Sobat Kabar yang menyukai drama keluarga dengan konflik emosional dan cerita yang dekat dengan realitas kehidupan, Andai Waktu Bisa Diulang Kembali bisa menjadi salah satu film yang layak masuk daftar tontonan.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.