Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Feature

Raup Omzet Ratusan Juta Tiap Bulan, Kendang Jimbe Blitar Tembus Ekspor Pasar Global

Kerajinan kendang jimbe dan rebana asal Sentul, Kota Blitar tembus pasar internasional hingga Amerika Serikat dengan omzet mencapai Rp1 miliar per bulan.

Raup Omzet Ratusan Juta Tiap Bulan, Kendang Jimbe Blitar Tembus Ekspor Pasar Global
Produksi kendang jimbe di Blitar.

Poin Penting

  • Kendang jimbe, tiva, dan rebana dieksor ke Malaysia, Singapura, China, hingga Amerika Serikat.
  • Produksi dilakukan oleh perajin alat musik tradisional di Kelurahan Sentul, Kota Blitar.
  • Industri alat musik tradisional Blitar tetap bertahan dengan omzet mencapai Rp800 juta.

Kabar Blitar – Di tengah pesatnya perkembangan alat musik modern dan digital, suara kendang jimbe, tiva, hingga rebana tradisional dari Kelurahan Sentul, Kota Blitar, justru terus bertahan dan menembus pasar internasional. 

Dari tangan para perajin lokal, alat musik tradisional khas Indonesia itu kini dikirim ke berbagai negara.

Salah satu perajin yang masih konsisten menjaga eksistensi kerajinan tersebut adalah Muhammad Yefri Firmansyah. 

Usaha keluarga yang dirintis sejak tahun 2000 itu terus berkembang dengan memproduksi berbagai jenis alat musik seperti kendang jimbe, tiva, dan rebana bersama puluhan pekerja di rumah produksinya.

Awalnya, pemasaran hanya menyasar wilayah Pulau Jawa. Namun seiring perkembangan usaha, produk kerajinan tersebut kini berhasil menjangkau pasar luar negeri seperti Malaysia, Singapura, China, hingga Amerika Serikat.

Pemanfaatan media sosial menjadi salah satu strategi utama dalam memperluas pasar. Dalam sebulan, Yefri bersama para pekerjanya mampu memproduksi sekitar 200 hingga 300 unit alat musik untuk kebutuhan pasar tertentu.

Sementara untuk pasar domestik, pengiriman alat musik ini dapat mencapai sekitar 3.000 unit setiap bulan.

Harga produk yang ditawarkan cukup beragam, mulai Rp15 ribu hingga jutaan rupiah tergantung jenis dan ukuran alat musik. 

Kendang jimbe misalnya dipasarkan mulai belasan ribu rupiah hingga produk premium bernilai jutaan rupiah. Sedangkan rebana dijual mulai Rp30 ribu sampai Rp500 ribu per buah.

Di tengah tantangan kenaikan harga bahan baku seperti besi dan plastik akibat kondisi ekonomi global, produksi alat musik tradisional tersebut tetap berjalan. Menurut Yefri, penyesuaian harga dilakukan melalui komunikasi dengan pembeli.

“Kita melakukan komunikasi dulu dengan buyer, dan dijelaskan kondisinya seperti ini, dan ada kejadian seperti perang, dan kita sesuaikan dan kesepakatan dengan buyer. Intinya ekspor masih cenderung sama,” terang Yefri.

Dari usaha kerajinan itu, omzet yang diperoleh terbilang besar. Dalam satu bulan, perputaran usaha kendang dan rebana miliknya mampu mencapai sekitar Rp800 juta hingga Rp1 miliar.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kerajinan tradisional tetap memiliki tempat di tengah modernisasi. 

Tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga mampu membawa nama daerah ke pasar internasional.

#Alat Musik tradisional Blitar #Kendang jimbe Blitar

Komentar 0

Baca Juga