Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Blitarpedia

Misteri Supriyadi Belum Terpecahkan, Hilang Usai Pemberontakan PETA di Blitar

Supriyadi memimpin pemberontakan PETA di Blitar melawan Jepang pada 14 Februari 1945. Namun, keberadaannya hingga kini masih menjadi misteri sejarah.

Misteri Supriyadi Belum Terpecahkan, Hilang Usai Pemberontakan PETA di Blitar
Patung Supriyadi di Museum PETA.

Poin Penting

  • Supriyadi memimpin pemberontakan pasukan PETA di Blitar melawan pendudukan Jepang pada 14 Februari 1945.
  • Setelah pemberontakan dipadamkan Jepang, keberadaan Supriyadi tidak pernah diketahui secara pasti hingga kini.
  • Supriyadi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 1975 dan dikenal sebagai pahlawan tanpa makam pasti di Indonesia.

Kabar Blitar – Pada malam 14 Februari 1945 menjadi salah satu peristiwa bersejarah di Blitar yang tak bisa terlupakan. 

Saat pendudukan Jepang masih berada di puncak kekuasaan, seorang pemuda bernama Supriyadi memilih melawan dengan keberanian yang nyaris mustahil dibayangkan pada masa itu.

Di usianya yang baru 21 tahun, Supriyadi memimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar. 

Ia bukan jenderal besar dengan pasukan lengkap, melainkan seorang Shodanco atau komandan peleton yang dipenuhi kemarahan terhadap penindasan Jepang kepada rakyat Indonesia.

Supriyadi lahir di Trenggalek pada 13 April 1923 dan merupakan putra Raden Darmadi yang pernah menjabat Bupati Blitar. 

Meski berasal dari keluarga bangsawan, kehidupan Supriyadi dibentuk oleh didikan keras sang kakek yang menanamkan nilai anti penindasan sejak kecil.

Saat Jepang membentuk PETA untuk membantu menghadapi Sekutu, banyak pemuda Indonesia memanfaatkannya sebagai tempat belajar militer, termasuk Supriyadi. 

Di balik seragam bentukan Jepang itu, tumbuh semangat perlawanan yang diam-diam dipersiapkan.

Pada dini hari 14 Februari 1945 sekitar pukul 02.00 WIB, Supriyadi mulai menggerakkan pasukannya. 

Target pertama adalah Hotel Sakura di Blitar yang menjadi tempat perwira Jepang beristirahat. Serangan mortir diluncurkan secara mendadak.

Tak berhenti di sana, pasukan PETA juga menyerang Markas Kempetai, polisi militer Jepang yang dikenal kejam dan ditakuti masyarakat.

Untuk beberapa saat, pasukan pemberontak berhasil menguasai keadaan. Tentara Jepang yang biasanya dominan sempat dibuat panik. Namun kondisi itu tidak berlangsung lama.

Intelijen Jepang lebih dulu mencium rencana pemberontakan. Bala bantuan segera datang dan kepungan dilakukan di berbagai titik. Pemberontakan akhirnya berhasil dipadamkan.

Sebanyak 78 anggota PETA ditangkap setelah peristiwa tersebut. Enam orang di antaranya dieksekusi mati di Pantai Ancol pada 16 Mei 1945.

Namun satu hal yang membuat kisah ini terus hidup hingga sekarang adalah hilangnya Supriyadi.

Namanya tidak pernah tercatat sebagai tahanan maupun korban eksekusi. Sejak peristiwa itu, keberadaan Supriyadi tak pernah diketahui secara pasti.

Berbagai versi pun bermunculan. Ada yang menyebut ia gugur di Hutan Maliran, Ponggok, setelah terkepung tentara Jepang. 

Versi lain menyebut ia ditangkap dan dibawa ke Bayah, Banten, sebagai romusha hingga meninggal karena sakit.

Di tengah masyarakat juga berkembang cerita mistis bahwa Supriyadi memiliki senjata pusaka dari gurunya, Mbah Kasan Bendo, yang membuatnya mampu menghilang dari kejaran Jepang.

Hingga kini, misteri itu belum pernah benar-benar terjawab. Tidak ada makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Supriyadi. 

Ia bahkan dikenal sebagai satu-satunya Pahlawan Nasional Indonesia yang tidak memiliki makam pasti.

Pada 9 Agustus 1975, pemerintah resmi menetapkan Supriyadi sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 063/TK/1975.

Meski keberadaannya tetap menjadi tanda tanya besar, keberanian Supriyadi telah menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajahan. 

Api perjuangan yang ia nyalakan di Blitar pada malam Februari 1945 terus dikenang sebagai salah satu titik penting lahirnya semangat kemerdekaan Indonesia.

#Drama kolosal pemberontakan PETA #Sejarah Tentara PETA

Komentar 0

Baca Juga