Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Feature

Helm Jadul Jadi Buruan Kolektor, Perajin Blitar Kebanjiran Pesanan

Kisah Arik Agung Prasetyo Budi, warga Sanankulon, Blitar, yang mengubah hobi mengoleksi helm jadul menjadi usaha restorasi beromzet puluhan unit per bulan.

Helm Jadul Jadi Buruan Kolektor, Perajin Blitar Kebanjiran Pesanan
Restorasi helm jadul. (KBRB)

Poin Penting

  • Arik Agung Prasetyo Budi (35) asal Kalipucung, Sanankulon, menekuni restorasi helm lawas sejak 2016 hingga jadi penghasilan utama keluarga.
  • Helm bekas dibeli sekitar Rp75 ribu, direstorasi, lalu dijual Rp150–300 ribu per unit, lebih tinggi jika cat/stiker asli masih terjaga.
  • Rata-rata 30 unit terjual per bulan, dengan pembeli terbesar dari Jakarta, Jawa Barat, dan Bali.

KBRB – Di sudut Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, tumpukan helm lawas tersusun rapi memenuhi ruang tamu sebuah rumah, Kamis (30/7/2026).

Helm-helm yang dulunya kusam, penuh goresan, bahkan nyaris tak bernilai itu kini kembali tampil mengilap setelah melewati proses restorasi.

Di balik usaha tersebut ada Arik Agung Prasetyo Budi (35).

Sejak 2016, ia menekuni restorasi helm lawas yang kini menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.

Awalnya, Arik tidak pernah membayangkan hobi mengoleksi helm jadul bisa berkembang menjadi usaha.

Semuanya bermula saat ia mencoba menjual beberapa koleksi pribadinya lewat media sosial.

Respons kolektor ternyata di luar dugaan — helm yang dipasang langsung mendapat pembeli.

Dari situ, Arik menyadari barang-barang lawas masih punya pasar yang cukup besar.

"Dulu saya coba jual helm koleksi pribadi lewat media sosial dan ternyata laku. Dari situ saya melihat ternyata ada pasarnya," ujarnya.

Sejak saat itu, Arik mulai berburu helm bekas dari komunitas pecinta barang lawas hingga para pengepul.

Helm yang diperoleh dengan harga sekitar Rp75 ribu kemudian dibersihkan, diperbaiki, dicat ulang bila diperlukan, hingga dikembalikan semirip mungkin dengan kondisi aslinya.

Setelah direstorasi, helm dijual kembali dengan harga Rp150 ribu hingga Rp300 ribu per unit.

Nilainya bisa lebih tinggi bila kondisi helm masih mempertahankan cat dan stiker bawaan pabrik.

Menurut Arik, helm jenis Chips menjadi salah satu buruan utama kolektor.

"Kalau yang masih orisinal harganya memang lebih tinggi. Kolektor biasanya mencari helm dengan kondisi asli atau hasil restorasi yang rapi," katanya.

Rumah orang tuanya kini tak hanya jadi tempat tinggal, tapi juga showroom sederhana.

Ratusan helm berbagai model memenuhi rak-rak di ruang tamu, sementara sebagian lainnya masih menunggu giliran dipoles sebelum dikirim ke pembeli.

Pasar terbesar Arik justru berada di luar Jawa Timur.

Mayoritas konsumennya berasal dari Jakarta, Jawa Barat, hingga Bali, lewat jaringan komunitas pecinta motor klasik dan media sosial.

"Dalam sebulan rata-rata bisa terjual sekitar 30 unit. Paling banyak pembeli dari Jakarta, Jawa Barat, dan Bali karena komunitas motornya cukup besar," pungkasnya.

#Barang Antik Blitar #Kabupaten Blitar

Komentar 0

Baca Juga