Gerai KDMP Hampir Hangus, Blitar Dilanda 17 Karhutla Hingga Agustus 2026
Sebanyak 17 kejadian kebakaran hutan dan lahan terjadi di Kabupaten Blitar sepanjang Januari hingga 27 Agustus 2026. Karhutla menghanguskan 59,479 hektare lahan dan menyebabkan satu petani meninggal dunia.
Poin Penting
Kabupaten Blitar mencatat 17 kejadian karhutla hingga 27 Agustus 2026, dengan total lahan terdampak mencapai 59,479 hektare.
Karhutla terjadi di berbagai wilayah Kabupaten Blitar, mulai Srengat, Bakung, Gandusari, hingga Sutojayan, serta melanda kawasan Perhutani, lahan tebu, dan rumpun bambu.
Satu warga meninggal akibat karhutla, yakni petani berusia 63 tahun yang terjebak saat membakar daun tebu.
Kabar Blitar – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Blitar sepanjang Januari hingga 27 Agustus 2026 telah mencapai 17 kejadian.
Rentetan kebakaran tersebut menghanguskan lahan seluas 59,479 hektare atau sekitar 594.790 meter persegi.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar, Wahyudi mengatakan, karhutla terjadi di sejumlah wilayah dan tidak hanya terkonsentrasi di kawasan Blitar Selatan.
“Kalau di catatan kami sampai 27 Agustus, ada sekitar 17 kejadian sepanjang Januari–Agustus 2026. Lokasinya rata, tidak hanya di Blitar Selatan. Awal-awal kemarau itu bahkan ada di wilayah Kecamatan Srengat,” ujar Wahyudi kepada Tugujatim.id, Kamis (3/9/2026).
Sejumlah lokasi yang sempat dilanda kebakaran antara lain kawasan utara Pantai Pasur di Kecamatan Bakung, Gunung Pegat di Kecamatan Srengat, hingga wilayah Kecamatan Gandusari.
Kebakaran juga terjadi di kawasan hutan produksi milik Perhutani serta lahan tebu dan rumpun bambu.
Rentetan karhutla tersebut bahkan menimbulkan korban jiwa.
Seorang petani perempuan bernama Tukiyem (63), warga Desa Tumpakkepuh, Kecamatan Bakung, meninggal dunia setelah terjebak kobaran api saat membakar daun tebu kering atau daduk di lahan garapan kawasan Perhutani Puthok Aman, RPH Ngrejo, pada 16 Juli 2026.
Peristiwa tersebut bermula ketika korban bersama suaminya membersihkan lahan dengan membakar daun tebu kering.
Kondisi angin yang cukup kencang membuat api membesar dan merembet ke area sekitar.
Saat berusaha mengendalikan kobaran api, Tukiyem justru terjebak hingga akhirnya meninggal dunia.
Selain menyebabkan korban jiwa, sejumlah karhutla juga mengancam fasilitas masyarakat.
Salah satunya terjadi pada Selasa (11/8/2026), ketika api membakar lebih dari satu hektare lahan tebu di sekitar Gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Kandangan, Kecamatan Srengat.
“Kobaran api berhasil dipadamkan oleh warga sekitar bersama petugas BPBD sebelum merembet lebih luas, sehingga bangunan gerai KDMP dipastikan selamat tanpa kerusakan,” jelas Wahyudi.
Karhutla kembali terjadi pada Rabu (19/8/2026) di kawasan Perhutani Petak 9A-1, Dusun Kaulon, Desa Kaulon, Kecamatan Sutojayan.
Api membakar serasah dan vegetasi kering di bawah tegakan pohon jati dengan luas area terdampak sekitar tiga hektare.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.