Blitar Catat Penurunan Stunting, Kecamatan Rawan Jadi Prioritas Pengawasan
Angka stunting di Kabupaten Blitar mengalami penurunan 2,5 yang menunjukkan semakin tercukupi kebutuhan gizi di masyarakat.
Poin Penting
- Angka stunting di Kabupaten Blitar terus melandai.
- Tiga kecamatan masih jadi fokus utama Dinkes Kabupaten Blitar.
- Prevalensi stunting ditargetkan turun hingga 14,2 persen pada 2029.
Kabar Blitar – Upaya berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Blitar dalam menekan angka stunting mulai menunjukkan hasil yang positif.
Evaluasi tahunan memperlihatkan adanya tren penurunan prevalensi stunting yang signifikan, sekaligus membuka peluang bagi daerah ini untuk melampaui target nasional pada 2029.
Koordinator Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Etti Suryani, menyampaikan bahwa penurunan angka stunting terjadi cukup nyata dalam satu tahun terakhir.
Ia menjelaskan, pada 2023 prevalensi stunting di Kabupaten Blitar masih berada di angka 20,3 persen.
“Namun melalui berbagai intervensi lintas sektor yang dijalankan secara intensif, angka tersebut berhasil ditekan menjadi 17,8 persen pada 2024,” terangnya.
Menurut Etti, meskipun hingga 2025 ini belum ada rilis resmi Survei Status Gizi Balita Indonesia dari Kementerian Kesehatan, pemantauan tetap dilakukan secara mandiri oleh daerah.
Fokus pengawasan diarahkan pada kecamatan-kecamatan yang sebelumnya tercatat memiliki prevalensi stunting relatif tinggi, seperti Garum, Ponggok, dan Selopuro.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan penurunan stunting berlangsung merata dan berkelanjutan.
Penurunan sebesar 2,5 persen tersebut dinilai menjadi modal penting bagi Kabupaten Blitar dalam mengejar target jangka panjang.
Etti menegaskan, target yang dipasang daerah bahkan lebih ambisius dibandingkan target nasional. Jika secara nasional prevalensi stunting ditargetkan turun hingga 14,2 persen pada 2029, Kabupaten Blitar menetapkan sasaran lebih rendah, yakni 13,9 persen.
Sementara itu, di tingkat Provinsi Jawa Timur, target prevalensi stunting dipatok hingga 12 persen pada tahun yang sama.
Ia menjelaskan, capaian tersebut tidak lepas dari pelaksanaan berbagai program intervensi spesifik yang dilakukan secara konsisten.
Program tersebut antara lain pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri, pemenuhan gizi ibu hamil, serta pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal bagi balita dan kelompok berisiko stunting.
Etti berharap konsistensi masyarakat dalam melakukan deteksi dini melalui posyandu terus terjaga. Menurutnya, keterlibatan semua pihak menjadi kunci agar penurunan stunting tidak hanya tercatat dalam data statistik.
"Dengan peran bersama, target penurunan stunting hingga 13,9 persen pada 2029 diharapkan benar-benar mencerminkan lahirnya generasi Blitar yang lebih sehat, kuat, dan berkualitas,” pungkasnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.